Kisah Irham yang Berjuang Melawan Lumpuh

oleh

JARAK 10 meter, pandangan memprihatinkan sudah jelas terlihat memalang di pelopak mata. Ini bukan garis horisontal, melainkan rumah semi permanen yang ditinggali Mahamuddin, pria paru baya yang menghidupi enam orang anaknya.

Lima tahun silam, setelah istrinya meninggal, Mahamuddin harus berperan ganda mengurusi anaknya. Menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi kelima anak-anaknya yang masih kecil.

Di dalam rumah, yang dibagi menjadi dua petak. Ruang pertama yang menjadi pijakan ketika melangkah ke dalam rumah, adalah ruang tamu. Di rumah berdinding papan lapuk mempermudah angin sesuka hati untuk keluar masuk. Atapnya yang terbuat dari daun rumbia, terlihat jelas bocor di sana sini yang meneropong angkasa. Tak ada kursi yang terpasang seperti ruang tamu pada umumnya, hanya ada bentangan plastik robek yang menjadi alasnya.

Melangkah lebih ke dalam, ruang yang menjadi tempat kumpul keluarga. Di sisi sebelah kanan, di atas ranjang yang beralasbelahan-belahan bambu dengan kelambu kusut yang sudah berubah warna dari putih menjadi kecoklatan. Irham terbaring tak berdaya, putra sulung Mahamuddin hasil pernikahannya dengan Almarhum Ilah.

Irham yan masih berusia 16 tahun, telah 10 hari tergolek tak berdaya, dirinya mengalami kelumpuhan pada bagian perut ke bawah hingga ujung kaki. Sempat dirawat sembilan hari di RS Regional dan satu bulan di RS Daerah Mamuju, dokter yang menanganinya menyerah untuk mengobati penyakitnya.

Kepada mandarnesia.com, Mahamuddin yang sedang berkumpul bersama keluarganya, saat berkunjung bersama beberapa tokoh pemuda ke rumahnya yang terletak di Dusun Pettabeang Barat, Desa Kayuangin, Kecamatan Malunda, Majene, mengatakan, meski memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dirinya mengaku tidak mampu untuk membiayai permintaan dokter yang menyarankan agar Irham dirujuk ke Makassar.

“Saya sudah tidak punya uang untuk membawanya berobat ke Makassar, pengalaman pada saat saya membawa almarhum ibunya berobat ke Makassar, biaya di rumah sakit memang gratis, tapi biaya hidup, seperti tempat tinggal, makanan belum lagi biaya mobil untuk ke sana. Saya mau ambil dimana?” kata Mahamuddin yang sesekali menegur anak bungsunya yang menyela komunikasi kami, Senin, (20/11/2017).

Cerita sang ayah, kejadian berawal saat Irham mengangkat sebuah karung besar yang berisi pupuk ke atas argo. Beban yang terlalu berat, membuat tulang rusuk Irham berbunyi, dan terasa bergeser. Saat itu belum ada hal aneh yang dirasakan.

Setahun kemudian, Irham pingsan dan dilarikan ke Puskesmas Malunda, sebelum dirujuk ke Mamuju.

Keterangan dokter yang menanganinya, di sela-sela tulang rusuk Irham, ada gumpalan nanah yang membuat syarafnya terjepit sehinggga tidak bisa berfungsi dengan baik. Itulah yang menyebabkan sebagian tubuhnya lumpuh.

Dari foto ronsen yang diperlihatkan kepada penulis terlihat tulang susuk Irham bengkok, seperti patah dan miring ke arah kiri.

Saat ini, kondisi Irham semakin memprihatinkan, berat badannya semakin hari semakin menurun. Ia hanya makan tiga sendok setiap harinya.

Sedangkan untuk buang air besar harus dibantu. Sementara untuk buang air kecil, menggunakan alat kateter yang masih dipasang petugas kesehatan pada saat dirawat di RS Mamuju.

Kondisinya yang tidak mampu bergerak, menimbulkan masalah baru. Beberapa titik di bagian tubuhnya kini mengalami luka lecet yang mulai meluas, di bagian belakang dan leher.

Ketika penulis mengajaknya untuk berbicara, beberapa pertanyaan hanya dijawab dengan tatapan kosong. “Kau harus kuat,” sambil mengusap kepalanya. Irham mengarahkan pandangannya, tak satu pun kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Pria muda ini hanya mengerutkan dahi yang tak mampu penulis maknai.

Untuk obat Irham. Ayahnya yang memiliki pekerjaan tetap, terkadang menjadi kuli bangunan, menjadi tukang ojek, dan sesekali melaut, mengaku masih ada sisa dari obat yang diberikan dokter di Mamuju. Namun jika habis, dia akan membelinya di toko obat yang ada di Malunda.

“Kalau sudah habis, saya akan beli obat dengan kemampuan uang yang saya miliki,” sambil menggulirkan sebatang rokok yang terjepit di sela jari kasarnya, mimik wajahnya juga penuh kesenduan.

Yang lebih menyedihkan, ketika sang ayah bercerita bahwa dua hari lalu, Irham kembali pingsan. “Saya tidak bisa bawa ke rumah sakit, saya hanya minta bantuan dukun, supaya didoakan agar anak saya kembali siuman.”

#SudirmanSyarif