Oleh Adi Arwan Alimin (Penulis Buku)
“Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi buku.” Kalimat sederhana dari Ahmad Fuadi dalam ruang virtual semalam. Itu bukan motivasi klise bagi para peserta The Mentor yang mencapai 375 dari berbagai penjuru provinsi hingga mancanegara. Kalimatnya prinsip dasar yang sering dilupakan orang.
Sebuah mahakarya tidak pernah lahir dari sekali hentakan napas, melainkan pada ketabahan mengumpulkan kepingan kata.
Menulis saat ini, pada hakikatnya sebuah kerja organik yang menuntut ketekunan luar biasa di tengah gempuran distraksi digital. Sebagaimana ditegaskan oleh King (2000), menulis bukanlah tentang menunggu datangnya inspirasi secara ajaib, melainkan tentang kesiapan untuk duduk dan bekerja secara konsisten di depan meja tulis setiap hari. Menulis bukan peristiwa mistis sambil bertopang dagu.
Kebiasaan menulis merupakan akar utama bagi siapa pun yang ingin menyebut dirinya penulis. Proses ini dimulai dari keberanian menyusun satu kata demi satu kata hingga menjadi kalimat yang bernyawa. Kalimat-kalimat itu kemudian saling bertautan, membangun paragraf demi paragraf hingga mewujud menjadi sebuah gagasan yang utuh.
Tanpa fondasi kebiasaan yang kokoh, ide secemerlang apa pun hanya akan menguap menjadi angan-angan yang tidak pernah menjumpai pembacanya.
Kehadiran penulis dalam ruang-ruang diskusi kreatif, seperti Zoom semalam, memiliki urgensi yang mendalam.
Menulis sering kali menjadi perjalanan yang sunyi dan rentan terhadap keraguan diri. Memiliki kawan diskusi bukan hanya tentang bertukar teknik teknis, melainkan tentang membangun ekosistem mental yang sehat. Seseorang membutuhkan cermin dan pendengar untuk memvalidasi apakah arah gagasannya sudah mencapai tujuan yang diinginkan atau justru tersesat dalam labirin kata-kata.
Secara umum, kendala bagi penulis pemula tetaplah sama dari zaman ke zaman: hambatan untuk memulai. Kita terlalu sering terpaku pada standar kesempurnaan di baris pertama, sehingga jemari mendadak kaku sebelum sempat bercerita. Lamott (2019) dalam teorinya mengingatkan bahwa setiap penulis besar pun memulai dengan “draf pertama yang buruk”, ini konsep Lamott yang paling populer. Katanya, keberanian untuk menuliskan sesuatu yang tidak sempurna jauh lebih mulia daripada membiarkan kertas tetap kosong tanpa makna.
Siapa pun sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penulis. Tidak ada kasta dalam dunia literasi yang menghalangi seseorang untuk berkarya, selama ia memiliki kemauan untuk belajar. Perbedaan antara mereka yang berhasil menerbitkan buku dan yang hanya menyimpan draf di laci ingatan hanyalah terletak pada tingkat kesabaran dan konsistensi.
Menulis adalah perlombaan lari jarak jauh, bukan lari cepat yang mengandalkan ledakan tenaga sesaat.
Lebih jauh lagi, menulis pada dasarnya tentang cara mengelola hati. Ada kalanya jemari terasa kaku dan ide seolah terkunci rapat di balik dinding kebosanan. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi seorang penulis yang harus mampu berdamai dengan kegelisahannya sendiri.
Tetap tenang di depan layar, dan mulai menuliskan hal-hal yang paling dekat dengan realitas hidupnya. Hal ini selaras dengan konsep flow dari Csikszentmihalyi (2014), di mana seorang penulis harus mampu mengelola kondisi psikologisnya agar dapat sepenuhnya larut dalam proses kreatif. Intinya, nikmati proses kreatifmu, sebab ini memang jalan sunyi.
Kunci utamanya memulai dengan kesederhanaan gagasan. Mulailah dari hal yang paling dekat dengan dirimu, dari apa yang kamu lihat, rasakan, dan pahami secara mendalam. Jangan terbebani untuk langsung menulis tentang teori-teori besar yang rumit jika hatimu belum tertaut di sana.
“Saya menulis dari hati, bukan oleh otak saya,” kata sastrawan Nur Dahlan Jirana kepada penulis 25 tahun lalu di Kampung Jawa. Usai melihatnya menulis sambil melayani diskusi bersama beberapa secara bersamaan.
Kekuatan sebuah tulisan justru sering kali muncul dari detail-detail kecil kehidupan yang dikelola dengan kejujuran intelektual dan emosional yang tinggi. Selain itu, aspek motivasi internal memegang peranan krusial dalam keberlanjutan seorang penulis.
Menulislah karena Anda memang ingin menulis, bukan karena desakan atau perintah orang lain. Motivasi yang bersifat eksternal biasanya akan cepat padam saat tantangan teknis mulai datang menghampiri. Sebaliknya, keinginan yang tumbuh dari dalam diri akan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis, bahkan saat tulisan kita menemui jalan buntu.
Bagi generasi muda, menulis cara terbaik untuk merawat martabat pemikiran. Dengan menulis, kita tidak hanya meninggalkan jejak sejarah bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi bagi peradaban dengan menawarkan sudut pandang yang unik dan reflektif terhadap berbagai fenomena sosial.
Tetaplah memiliki hati seorang pemelajar. Kelola hatimu agar tetap rendah hati dalam menerima kritik, namun tetap teguh dalam mempertahankan prinsip gagasan. Ingatlah buku yang hebat selalu dimulai dari satu kalimat yang berani Anda ketikkan hari ini. Bergeraklah, kata demi kata, dan jangan lupa berdoalah. Karena pada akhirnya, kumpulan kesabaran itulah yang akan mewujud menjadi karya terbaikmu.
“Sampai ketemu di rak buku,” kata Ahmad Fuadi penulis novel Negeri 5 Menara ini. (*)







