Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Sebuah kalimat dari khotbah Idhul K.H. Sybli Syahabuddin langsung menghentak kesadaran yang paling asazi:
“Mati sebagai batas kembali, maka jangan mati sebelum selamat.”
Kalimat batin itu kedalamannya seperti sumur tua yang tak terlihat dasarnya. Ia bukan sekadar nasihat agama, melainkan alarm eksistensial bagi manusia modern yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa memeriksa arah pulangnya.
Dalam tradisi sufistik, kematian bukan hanya peristiwa biologis. Ia adalah titik peralihan dari kefanaan menuju keabadian. Tetapi yang paling menakutkan bukanlah mati. Yang paling menakutkan adalah pulang kepada Tuhan dalam keadaan belum selesai dengan diri sendiri : belum bersih dari kesombongan, belum lepas dari kerakusan, belum berdamai dengan sesama, dan belum mengenal hakikat hidupnya.
Karena itu para sufi selalu berbicara tentang “mati sebelum mati.” Sebuah konsep spiritual yang berarti mematikan ego sebelum jasad benar-benar berhenti bernapas.
Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Matilah sebelum engkau mati, agar ketika kematian datang, engkau telah hidup.” Dalam pandangan Rumi, kematian sejati bukan berhentinya tubuh, melainkan runtuhnya keakuan yang memisahkan manusia dari Tuhan. Ego adalah hijab terbesar. Ia membuat manusia merasa paling benar, paling penting, dan paling layak dipuji.
Maka “jangan mati sebelum selamat” dapat dibaca sebagai ajakan untuk menyelamatkan ruh terlebih dahulu sebelum tubuh dipanggil pulang.
Keselamatan dalam perspektif sufistik bukan hanya bebas dari siksa akhirat. Keselamatan adalah kondisi ketika hati tidak lagi diperbudak dunia. Ketika manusia mampu melihat harta sebagai amanah, jabatan sebagai ujian, dan hidup sebagai perjalanan pulang. Keselamatan adalah saat batin menjadi teduh karena dekat dengan Tuhan.
Di titik inilah Iduladha menemukan makna terdalamnya.
Kisah Nabi Ibrahim bukan semata tentang penyembelihan hewan qurban. Ia adalah simbol penyembelihan ego manusia. Ismail bukan sekadar anak yang hendak dikorbankan, melainkan lambang dari segala hal yang paling dicintai manusia selain Tuhan: ambisi, popularitas, kekuasaan, bahkan dirinya sendiri.
Karena itu, qurban sejatinya bukan tentang darah dan daging. Al-Qur’an bahkan telah menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukan darahnya, melainkan ketakwaannya. Yang dinilai bukan besar hewan yang disembelih, tetapi sebesar apa manusia berani memotong kesombongan dalam dirinya.
Ironisnya, manusia modern justru hidup dalam budaya mempertontonkan ego. Media sosial dipenuhi perlombaan citra. Kebaikan sering berubah menjadi panggung pengakuan. Bahkan ibadah kadang lebih sibuk difoto daripada dihayati. Dunia digital melahirkan manusia yang tampak ramai di luar, tetapi sunyi di dalam.
Di tengah situasi itulah kalimat K.H. Sybli Syahabuddin menemukan relevansinya. “Mati sebagai batas kembali” adalah pengingat bahwa hidup memiliki ujung. Semua manusia sedang berjalan menuju batas itu, cepat atau lambat. Tidak ada jabatan yang mampu menawar ajal. Tidak ada kekayaan yang dapat menyuap kematian.
Namun yang lebih penting adalah pertanyaan: dalam keadaan seperti apa kita kembali?
Al-Ghazali pernah menulis bahwa manusia yang lalai ibarat musafir yang sibuk menghias kendaraan tetapi lupa tujuan perjalanan. Dunia hari ini memperlihatkan gejala itu secara terang-benderang. Kita membangun gedung tinggi, tetapi meruntuhkan kejernihan nurani. Kita mempercepat teknologi, tetapi memperlambat kepekaan hati. Kita terkoneksi secara digital, tetapi terasing secara spiritual.
Keselamatan ruhani akhirnya menjadi barang langka.
Padahal para sufi sejak dahulu telah mengingatkan bahwa hidup hanyalah jembatan. Jangan membangun istana di atasnya. Dunia bukan rumah menetap, melainkan tempat singgah untuk mempersiapkan kepulangan.
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkata, “Bagaimana hati dapat bercahaya jika bayangan dunia masih melekat di cerminnya?” Kalimat ini seperti menampar peradaban modern yang terlalu silau pada materi hingga kehilangan cahaya makna.
Maka “jangan mati sebelum selamat” sejatinya adalah proyek penyelamatan kesadaran. Ia mengajak manusia kembali memeriksa dirinya sebelum ajal memeriksanya. Sebab kematian bukan hanya akhir kehidupan, tetapi awal pertanggungjawaban.
Iduladha mengajarkan bahwa keselamatan lahir dari kepasrahan total kepada Tuhan. Nabi Ibrahim selamat bukan karena kekuatannya, melainkan karena ketundukannya. Dalam bahasa sufi, keselamatan lahir ketika manusia berhenti menjadi pusat semesta dan mulai menempatkan Tuhan sebagai pusat hidupnya.
Barangkali itulah sebabnya para sufi tampak tenang menghadapi kematian. Karena bagi mereka, kematian hanyalah pintu pulang menuju Kekasih. Yang menakutkan bukan mati, melainkan mati dalam keadaan jauh dari Tuhan.
Dan di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ambisi, khotbah itu hadir seperti suara yang memanggil manusia untuk kembali ke dalam dirinya sendiri:
Sebelum tubuh dibaringkan di liang lahat, baringkanlah terlebih dahulu ego di hadapan Tuhan. Sebelum napas berhenti, selamatkanlah hati dari kesombongan. Sebelum ajal datang mengetuk, pastikan ruh telah menemukan jalan pulang.
Sebab kematian memang batas kembali. Dan tidak semua orang yang mati benar-benar selamat.
____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban












