Laporan: Dr. Agusnia Hasan Sulur (Rektor Institut Hasan Sulur Sulawesi Barat)
MANDARNESIA.COM, NIJMEGEN, BELANDA– Delegasi pimpinan perguruan tinggi LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara melanjutkan misi akademiknya ke kota tertua di Belanda, Nijmegen. Sasaran utamanya adalah Radboud University (Radboud Universiteit Nijmegen), sebuah universitas riset negeri non-profit yang masuk dalam jajaran elit dunia.
Kampus Riset Kelas Dunia
Didirikan sejak 1923, Radboud University kini berdiri megah di atas lahan asri yang sering dijuluki sebagai salah satu kampus tercantik di Eropa karena lokasinya yang menyatu dengan hutan, danau, dan jalur sepeda. Di balik keindahan alamnya, Radboud menyimpan kekuatan akademik yang luar biasa:
Peringkat Global: Berada di Top 200 dunia (QS World University Rankings 2026) dan Top 150 dunia (THE World University Rankings).
Pusat Riset Otak
Memiliki Donders Institute, pusat riset otak dan kognisi terbaik di dunia yang bekerja sama dengan Max Planck Institute. 1 dari 3 penerima Nobel berasal dari universitas ini, membuktikan tradisi riset yang sangat kuat.
Dari 24.000 mahasiswa, 15% merupakan mahasiswa internasional yang berasal dari 120 lebih negara. Radboud University selama ini telah menjalin kemitraan erat dengan universitas top Indonesia seperti UI, UGM, dan ITB melalui skema beasiswa LPDP, Stuned, dan Erasmus+. Kehadiran 17 pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) termasuk delegasi yang mewakili semangat Sulawesi Barat dalam kunjungan ini, bertujuan membuka keran kerja sama serupa.
Beberapa poin krusial yang menjadi catatan bagi kampus di daerah adalah:
Biaya Terjangkau
Sebagai kampus negeri, biaya kuliah S2 internasional relatif terjangkau, berkisar antara €15.000 hingga €18.000 per tahun. Radboud Scholarship Programme menawarkan bantuan biaya kuliah penuh (full tuition) serta biaya hidup bagi mahasiswa non-Uni Eropa.
Apa Artinya Bagi Institut Hasan Sulur (IHS)?
Kunjungan penulis sebagai Rektor IHS Sulbar bukan sekadar perjalanan melihat kampus orang lain, melainkan sebuah strategi “menjemput bola” bagi Institut Hasan Sulur (IHS). Berikut potensi yang bisa dikembangkan, yakni Pusat Riset Lokal Berstandar Global.
Mengikuti jejak Radboud yang kuat di bidang Linguistik dan Sejarah, IHS memiliki potensi besar menjadi pusat riset maritim dan identitas budaya Mandar yang unik.
Kehadiran IHS dalam delegasi LLDIKTI IX membuktikan bahwa kampus IHS Sulbar memiliki visi untuk tidak hanya menjadi pemain lokal, tetapi juga menjadi gerbang bagi anak muda Sulawesi Barat menuju kancah internasional.
Untuk mahasiswa dan calon mahasiswa IHS, langkah pimpinan IHS menjajaki peluang di Radboud University adalah pesan nyata bagi kalian, para mahasiswa mengapa?
1. Dunia Kini Tanpa Sekat
Kuliah di IHS bukan berarti tertutup dari dunia luar. Pimpinan kalian sedang membangun jembatan agar peluang riset otak di Donders Institute atau studi linguistik di Belanda bisa diakses oleh putra-putri Mandar.
2. Kuasai kualitas untuk membangun Sulbar. Belajarlah dari sistem pendidikan Belanda yang non-profit namun berkualitas tinggi. Kalian dipersiapkan untuk mengantongi standar mutu ini demi membangun masa depan Sulawesi Barat yang lebih maju.
3. Persiapkan dari dari Sekarang. Peluang beasiswa penuh di depan mata. Jadi tingkatkan kemampuan bahasa dan akademik kalian, karena IHS kini memiliki jejaring langsung dengan institusi-institusi terbaik di Eropa.
“Eropa memang jauh, namun melalui pintu Institut Hasan Sulur, jarak itu kini diperpendek oleh visi-misi pimpinan yang visioner. Masa depan kalian tidak lagi hanya di Polewali atau Majene, atau buat Sulawesi Barat tetapi bisa saja bermula dari Nijmegen.”
Segera bergabung dengan kampus IHS Sulawesi Barat. (*)












