Thursday, August 6, 2020

Catatan Singkat MWCF

Oleh : Muhammad Armin

Mengulas Mandar yang tidak tak terlepas dari sejarah lampau lalu menimbulkan ‘pride effect’/ efek bangga yang tak terkira. Namun adakah ia (sejarah) menjadi mediasi terintegrasi atas kebanggaan masa lalu untuk Masa Depan Mandar?

Jika dahulu pelabuhan di Ambon di musim angin laut tertentu, orang Mandar mendaratkan sejumlah hasil karya terutama Sarung Sutra dari Mandar.

Saya sebelumnya sudah berulang kali membayangkan, seperti kisah di atas tentang sarung, saat ini dan seterusnya dari Mandar berlabuh lewat pelabuhan atau lewat kargo bandar udara didaratkan hasil karya sumber daya Mandar.

Alm. Prof. Baharuddin Lopa pernah membayangkan hal searah bahwa kelak di Mandar (SulBar) berdiri industri seperti pembuatan sepeda dengan sumber daya lokal biji besi akan terwujud.

Mandar kekinian telah menampakkan sebagain hasilnya di masa mediasi/ transisi ke Masa Depan, angka-angka Indikator pembangunan daerah yang kurang menggembirakan, PAD salah satunya. Provinsi Sulbar yang hanya 15 persen, kabupaten Majene dengan PAD 8,18 persen. Angka IPM Sulbar 63,60 di bawah IPM nasional 70,81, angka kemiskinan 11,22 di atas nasional 9.66, beruntung angka pertumbuhan ekonomi Sulbar 7,90 di atas rata-rata nasional 5,17, dan sederet angka-angka pesimis yang tidak selesai dengan pride effect.

Atas data dan fakta atas peluang dan kelemahan Mandar saat ini, sudah saatnya terbangun dari ‘pride effect/ efek bangga’yang berkepanjangan lewat konsep dan model Masa Depan.

Saat ini Mandar dituntut mengikuti perubahan yang begitu cepat, atas kemampuan bahasa asing, statistik, coding/ pemprograman dan seterusnya.

Mandar tidak kekurangan pesan/pappasang leluhur untuk mengejar ketertinggalan.

Selamat dan Sukses Mandar Writers and Culture Forum (MWCF) 2019.

error: Content is protected !!
Open chat
1
Assalamu Alaikum
Ada yang bisa kami bantu?