Dilarang Onani di Tanah Manda

2 views

Catatan : Joni Ariadinata

SEJAK awal acara digelar, MWCF 2019 memang sangat terasa, bahwa forum ini bukan ajang adu tepuk tangan. Bukan ajang saling pamer karya antar teman, bukan tempat para penyair beronani. Membaca puisi di hadapan teman-temannya sendiri, lalu mendapat tepuk tangan teman-temannya sendiri.

MWCF memang bukan festival. Ia menamakan dirinya “forum”. Mungkin mereka tidak ingin meniru kebanyakan festival sastra di beberapa daerah di Indonesia, yang hanya menghasilkan hura-hura semata, menghabiskan dana untuk sesuatu yang tak jelas hasilnya.
Karena namanya “forum”, maka yang digojlok dari awal sampai akhir adalah perbincangan tentang berbagai persoalan dalam menyikapi perkembangan sastra dan kebudayaan.

Tentang bagaimana posisi Mandar dalam kancah kesusastraan Indonesia, serta mengupayakan program-program berkelanjutan untuk menumbuhkan para penulis muda (khususnya) di kawasan Sulawesi Barat.

MWCF bergandengtangan erat dengan para pegiat literasi yang selama ini berjibaku di desa-desa untuk menumbuhkan minat baca. Dan MWCF, bercita-cita menjadi wadah bagi semua penulis Mandar untuk saling mengasah.Maka tak ada terlihat satu pun aktivitas onani di “forum” yang berlangsung nonstop selama tiga hari ini. Bahkan dalam acara penutupan.

Acara penutupan semalam memang diisi oleh baca puisi. Tapi seluruh penyair, hanya boleh membacakan karya almarhum Husni Jamaluddin, penyair besar kelahiran Mandar. Sebab puncak penutupan MWCF didedikasikan untuk mengenang penyair Husni Jamaluddin, dan menjadi Malam Penyair Husni Jamaluddin.

Orang Mandar ternyata begitu rendah hati. Para penyair Mandar, secara bergantian membaca puisi Husni Jamaluddin, dengan khusuk dan penuh penghormatan.

Tentu saja, setiap penyair yang tampil, memiliki karyanya sendiri, dan secara naluriah pasti ingin sombong memamerkan karyanya (biar diberi tepuk tangan). Tapi MWCF tidak mengizinkannya.

Baca Juga:  Catatan Singkat MWCF

Begitulah, seperti terlihat dalam foto, saya pun didaulat untuk membaca puisi. Maka saya tampil membaca puisi Hikayat Bulan dan Khairan, puisi tentang ketuhanan yang begitu agung dari salah satu puisi karya Husni Jamaluddin. Saya diberi sertifikat sebagai tanda: bahwa saya telah menjadi salah satu pembicara yang diundang dari luar daerah.

Catatan Khusus:
O ya, sebetulnya saya ngebet ingin sekali onani. Apalagi tempat penutupan dilangsungkan di panggung terbuka, dimana masyarakat Mandar dari berbagai kalangan bebas menonton (ada nelayan, ada petani, ada pedagang, ada anak sekolah, ada guru-guru, ada pejabat).

Mereka yang menonton, bukan hanya teman-teman sendiri, seperti kebanyakan festival yang mempertontonkan puisi di tempat khusus (di gedung pertunjuklan khusus seniman yang membuat masyarakat biasa enggan untuk datang).

Tentu saja, jika saya onani di sana, akan mendulang banyak tepuk tangan. Karena yang bertepuktangan bukan hanya kalangan penyair saja, tapi juga masyarakat biasa yang hadir di lapangan. Tapi saya malu melakukannya.