Oleh: Dr. H. Farid Wajdi, M.Pd
SEPERTI kota-kota lain di dunia, Kota Majene menyimpan banyak memori dan kenangan; berbagai kearifan pernah lahir dan tumbuh di kota ini. Ada nostalgia, ada romantisme musim semi di sudut-sudut kotanya.
Salah satu penanda sejarah itu terdapat di Taman Kota Majene, berdiri sebuah papan informasi tentang pendaratan tentara Belanda pertama kali di wilayah Mandar:
“A Brief Story of Afdeling Mandar. Here in 1905, three brigades of the Dutch military and a doctor set their feet for the first time in Mandar. This marked the expansion of Dutch colonization and the beginning of Afdeling Mandar administration, with Madjene as its capital city.”
Artinya:
“Sejarah singkat Afdeling Mandar. Di tempat ini, pada tahun 1905, tiga brigade Belanda dan seorang dokter menjejakkan kaki untuk pertama kali di Mandar. Peristiwa ini menandai perluasan kolonialisasi Belanda di Nusantara, terbentuknya wilayah administrasi Afdeling Mandar, dan Madjene sebagai ibu kotanya.”
Majene dipilih Belanda sebagai ibu kota Afdeling Mandar tentu bukan tanpa alasan. Letaknya strategis di cekungan Teluk Mandar, memudahkan kapal-kapal dagang Belanda menurunkan sauh.
Panorama eksotis dengan senja memikat, serta warisan kearifan lokal yang telah tumbuh jauh sebelumnya. Dengan demikian, Majene bukanlah ruang sunyi dari peradaban. Kota ini telah melalui proses sejarah berlapis sejak masa Tomaka, Pappuangan, Maraqdia, hingga datangnya pemerintahan kolonial Belanda.
Masuknya Belanda di Majene tidak hanya mengubah lanskap pemerintahan dari tradisional menuju modern, tetapi juga melahirkan proses akulturasi budaya secara nyata antara Timur dan Barat.
Dari titik inilah ditemukan model pengembangan kota yang mirip dengan tata kota di Eropa.
Infrastruktur pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan dibangun dengan estetika khas Eropa. Dari proses tersebut lahirlah Majene sebagai kota tua, kota peradaban, the heart of West Sulawesi.
Dari kota tua ini pula lahir para intelektual dan teknokrat awal Mandar, seperti Husain Puang Limboro (pernah menjabat sebagai Menteri Kemakmuran – sering juga disebut Menteri Ekonomi – dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT), Prof. Dr. Baharuddin Lopa, S.H., Husni Djamaluddin, Prof. Dr. dr. H. Amir Abdullah, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, M.A., Komjen Syafruddin Kambo dan Dr. Muhammad Idris DP. Mereka menjadi role model bagi generasi berikutnya dalam membangun tradisi intelektual di Sulawesi Barat.
Akulturasi antara adab timur dan logika barat yang telah berlangsung di bekas wilayah Afdeling Mandar, menjadi alasan kuat berdirinya berbagai institusi pendidikan, seperti Unsulbar, STAIN, UT, dan sejumlah lembaga pendidikan lainnya.
Kehadiran institusi tersebut merupakan upaya menjaga keberlanjutan tradisi pemikiran yang sejak dulu menjadikan Majene sebagai kota pemasok pemikir, intelektual, dan cendekiawan.
Namun, menjadikan kembali Majene sebagai kota intelektual dan cendekiawan di Sulawesi Barat bukanlah perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi.
Karena itu, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama: pemerintah sebagai penentu kebijakan, akademisi sebagai penjaga nilai dan ilmu pengetahuan, masyarakat sebagai tiang utama pembangunan, pengusaha sebagai motor penggerak ekonomi daerah, media sebagai jembatan kolaborasi, serta sektor swasta sebagai mitra strategis dalam mengakselerasi perubahan.
Semuanya harus bersinergi dalam semangat sibaliparriq untuk mewujudkan Majene sebagai kota pendidikan yang berkelanjutan.
Diamora Kota Tua Majene: Kesadaran Baru dalam Tubuh Komunitas
Beban Majene dalam menyambung sumbu peradaban Sulawesi Barat bukanlah hal ringan. Dibutuhkan kerja kolaboratif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Kontribusi komunitas harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Hari ini, berbagai kelompok diskusi mulai tumbuh di ruang-ruang publik, terutama di kafe-kafe yang menyediakan ruang pertukaran gagasan. Di tempat-tempat itu, argumentasi dipertaruhkan, pikiran ditajamkan, dan pengetahuan dibagikan. Fenomena ini tampak di berbagai sudut Kota Majene, mulai dari kawasan Kota Tua hingga Kafe Dondori di bagian utara kota.
Gelombang intelektual ini semakin menguat dengan lahirnya sejumlah komunitas baru, salah satunya Komunitas Diamora Kota Tua Majene.
Diamora adalah bahasa cinta yang sangat dikenal. Dalam sebuah unggahan media sosial warga Majene tertulis: “Diamora Kota Tua Majene, perjumpaan rindu tanpa spasi, gelisah tanpa simpul, intimacy tanpa akhir, perjamuan antara kehendak langit dan laku di bumi.”
Kalimat tersebut merupakan ekspresi cinta yang tulus dan membara; cinta yang kuat dan mendalam dari komunitas untuk menjaga Majene tetap menjadi kota intelektual, kota peradaban, dan penyuplai pemikir-pemikir andal di Sulawesi Barat.
Diamora adalah energi sederhana yang menjadi penggerak abadi: diam tetapi mengena, bisu tetapi terasa. Ia seperti cinta kayu kepada api yang tak sempat diucapkan hingga menjadikannya abu. Seperti cinta awan kepada hujan yang tak sempat disampaikan hingga menjadikannya tiada. Sebagaimana ditulis Sapardi Djoko Damono, cinta sering hadir dalam kesederhanaan yang sunyi namun bermakna.
Diamora adalah kata kerja, lahir dari warganya untuk memberikan yang terbaik bagi Majene, agar mampu menyerap inspirasi lalu menginspirasi orang lain. Diamora Kota Tua Majene adalah bentuk partisipasi warga dalam membangun Majene lebih baik menuju kesejahteraan masyarakat melalui kekuatan pendidikan, pertanian, kelautan, ekonomi UMKM, dan pengembangan produk hilirisasi.
Diamora Kota Tua Majene adalah gerakan literasi yang memelihara kearifan dan menjaga sumbu peradaban tetap menyala. Ia menjadi ruang tumbuh bagi logika, etika, dan estetika dalam berbagai dialog publik sebagai penanda bahwa kota ini masih mewarisi akulturasi peradaban Timur dan Barat di Sulawesi Barat.
Mari menjaga kota ini.










