BRIN Luncurkan Buku Dampak Perubahan Iklim terhadap Perempuan dan Anak di Pesisir Jawa

by
Sumber Foto: Screenshoot Instagram @pwkundip

MANDARNESIA.COM, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Griffith University dan Universitas Diponegoro meluncurkan buku berjudul “Climate Change, Labour and Migration in Indonesia: Impacts on Women and Children” di Urban Knowledge Hub, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Selasa, 19 Mei 2026.

Peluncuran buku tersebut mengungkap dampak serius perubahan iklim terhadap perempuan dan anak di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, mulai dari banjir rob, penurunan muka tanah, hingga ancaman migrasi dan kerja paksa.

Buku ini merupakan hasil kolaborasi riset yang berfokus pada wilayah pesisir Daerah Khusus Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Demak.

Dalam pemaparannya, Plt Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, Muhammad Najib Azca, mengatakan peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari upaya menyebarluaskan hasil riset terkait adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

“Peluncuran buku ini menjadi bagian dari kami untuk menyebarluaskan adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim, khususnya pada isu kerja paksa dan migrasi akibat perubahan iklim yang tak lepas dampaknya kepada perempuan dan anak. Buku ini merupakan bagian dari proyek kolaboratif dengan KONEKSI yang menggabungkan peneliti Indonesia dan Australia,” ujar Najib.

Ia meyakini pertukaran pengetahuan lintas negara dan lintas disiplin ilmu dapat memperkaya perspektif analisis sekaligus menghasilkan riset yang lebih relevan dalam mendukung perumusan kebijakan publik.

Buku tersebut menyoroti berbagai persoalan di desa-desa pesisir, seperti ancaman kenaikan muka laut, migrasi paksa akibat hilangnya lahan, hingga risiko kerja paksa yang dipicu tekanan ekonomi.

Selain itu, riset juga membahas isu perubahan iklim dengan fokus pada kesetaraan gender, penyandang disabilitas, dan inklusi sosial.

Berdasarkan hasil survei, sekitar 80 persen perempuan mengalami berbagai tantangan akibat dampak perubahan iklim, termasuk perubahan profesi menjadi nelayan yang memicu persoalan rumah tangga dan ekonomi.

Anak-anak juga disebut menghadapi keterbatasan dalam pemenuhan hak dasar seperti akses pendidikan, kesehatan, nutrisi, dan perlindungan sehingga lebih sulit pulih saat bencana terjadi.

Peneliti BRIN, Laely Nurhidayah, mengatakan buku tersebut disusun untuk menyoroti dampak sosial dan bencana yang terjadi secara perlahan di wilayah pesisir Jawa.

“Melalui keberhasilan proyek riset tersebut, kami menyusun buku ini untuk menyoroti dampak sosial dan bencana yang terjadi secara perlahan di pesisir Jawa, sekaligus menerjemahkan implikasi hukum dan kebijakan menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti para pembuat kebijakan di Asia Pasifik,” ujar Laely.

Ia menambahkan, salah satu rekomendasi utama dalam buku tersebut adalah penguatan kebijakan migrasi yang aman dan berbasis hak asasi manusia bagi masyarakat terdampak perubahan iklim.

Selain itu, diperlukan pengembangan proteksi sosial yang adaptif guna mendukung ketahanan ekonomi kelompok rentan melalui perluasan jaminan sosial, diversifikasi mata pencaharian, serta peningkatan keterampilan kerja alternatif.

Sementara itu, peneliti dari Griffith University, Amy Young, menekankan pentingnya perlindungan perempuan dan anak dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

“Respons terhadap perubahan iklim perlu menempatkan perlindungan perempuan dan anak sebagai bagian utama dalam kebijakan adaptasi dan pembangunan berketahanan iklim. Pendekatan yang inklusif dan berbasis keadilan sosial sangat penting agar kelompok rentan tidak semakin terdampak,” ujar Amy Young.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Bappeda Daerah Khusus Jakarta, Andhika Ajie, menyebut buku ini penting sebagai referensi penguatan kebijakan berbasis riset untuk memperkuat ketahanan kota.

Sementara Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Franky Zamzani, mengingatkan pentingnya penguatan aksi adaptasi perubahan iklim dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.

“Buku ini menjadi kontribusi penting karena menghadirkan perspektif lapangan dan pembelajaran yang dapat memperkaya pengembangan kebijakan adaptasi perubahan iklim di Indonesia,” tegas Franky.

Adapun Wiwandari Handayani dari Universitas Diponegoro menilai pendekatan riset interdisipliner penting dalam mengatasi persoalan kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah di wilayah pesisir Indonesia.

Melalui diskusi tersebut, para narasumber berharap kolaborasi lintas sektor dapat terus diperkuat guna menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus melindungi masyarakat pesisir, perempuan, dan anak-anak sebagai kelompok paling rentan terdampak. (SP-BRIN/WM)