Bocah Rasyid, Kisah Pilu dari Pambusuang

oleh
Bocah Rasyid, Kisah Pilu dari Pambusuang -

POLEWALI MANDAR – Sikap tegar diperlihatkan seorang ibu di Dusun Kampung Tuluk Desa Galung Tuluk, Kecamatan Balanipa, Polewali Mandar.

Buah hati dari hasil perkawinannya dengan sang suami, Irwan (27) Nurhalima (26) harus menerima kenyataan pahit, anak semata wayangnya, Abdul Rasyid yang baru berusia 8 bulan, divonis menderita penyakit Sitomegalovirus dan Rubela.

Saat ditemui awak media di kediamannya, Nurhalima sedang berdua bersama sang anak. Sedangkan sang suami sedang berangkat melaut dan akan kembali selama lima hari ke depan.

“Saya mengetahui bahwa penyakit yang diderita anak saya terinfeksi virus Sitomegalovirus dan Rubela,
pada saat dirawat di rumah sakit Wahidin Makassar selama 2 bulan,” bebernya kepada Mandarnesia.com, Kamis (12/10/2017).

Waktu berumur dua minggu tutur Nurhalima, sudah ada kelainan. Berat badannya turun dan matanya kuning. Setelah dibawa ke Puskesmas, pihak Puskesmas meminta untuk berobat ke rumah sakit Majene. Saat di rumah sakit, dokter mengatakan, Rasyid kekurangan cairan dan sel darah merah, sehingga sempat ditranfusi.

Lihat Video di Youtube https://www.youtube.com/watch?v=8dm1nqR5gOg

Melihat tak ada perubahan selama di rumah sakit dan malah semakin kuning, pihak keluarganya memutuskan untuk berobat ke Makassar.

Selama di Makassar, Abdul Rasyid dirawat di dua rumah sakit, Rumah Sakit Unhas selama 5 hari dan Rumah Sakit Wahidin selama dua bulan. Di Wahidin, Rasyid diterapi ganskolovirus selama enam minggu.

“Saya memutuskan pulang karena sudah selesai perawatan. Tapi diharuskan kontrol setiap satu kali sebulan ke Makassar. Cuman akhir-akhir ini berat badannya menurun, jadi haruskan rawat inap. Karena kendala dana saya bawa pulang,” katanya.

Derita untuk merawat anaknya tidak sampai di situ, keluarga yang belum memiliki rumah pribadi dan tinggal bersama tantenya, harus meraup biaya yang lebih banyak.

Untuk memenuhi asupan makanan anaknya, dia harus membeli susu dengan harga Rp 300 ribu per kaleng, dengan berat 400 gram. Itu pun harus pesan ke Makassar.

“Kemarin sempat dapat info dari Makasar, katanya sudah kosong. Jadi petugas di sana harus pesan ke Surabaya,” tuturnya.

Meski telah memiliki BPJS Mandiri, tak tanggung-tanggung, selama anaknya berobat, dirinya telah mengeluarkan biaya sebanyak Rp 20 juta.

“Uang tersebut saya pinjam bantuan saudara, sama dari dinas sosial sekitar Rp 3 juta,” urainya.

Sebab untuk membeli susu, biaya hidup di Makassar, popok, biaya transpor dan lain-lain, tidak ditanggung oleh BPJS.

Saat ingin mengambil gambar, Abdul Rasyid sedang berada di kamar, terbaring tak berdaya, dirinya tak mampu menggerakan bagian tubuhnya. hanya bola mata Rasyid yang terlihat liar, menatapi setiap lambaian gorden akibat tiupan angin yang tepat berada di ubunnya.

#SudirmanSyarif