Antara Pisau Ibrahim dan Kursi Kekuasaan, Refleksi Qurban bagi Para Pemimpin

by
Foto Thamrin Wai Randang/Lokasi Perpustakaan Unsulbar

Oleh Adi Arwan Alimin (Historian/Penulis Buku)

Ada sesuatu yang selalu membuat saya tercenung setiap kali Iduladha tiba. Bukan semata pada aroma daging yang mengepul di halaman masjid, bukan pula pada riuh takbir yang membelah fajar. Melainkan pada sebuah adegan purba yang terus berulang dalam cermin peradaban 4.000 tahun terakhir. Seorang ayah, berdiri di tepi altar, dengan pisau di tangan dan cinta yang justru mendorongnya untuk melepaskan apa yang paling dicintainya.

Ibrahim tidak sedang berkorban dalam arti biasa melainkan sedang merobohkan benteng terakhir keakuan manusia, yakni kelekatan pada yang paling berharga.

Dan di sinilah saya ingin mengajak pembaca untuk sejenak duduk, menyesap kopi, membaca lalu bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita benar-benar mengerti apa yang sebenarnya sedang dikurbankan oleh mereka yang menamakan diri pemimpin hari ini?

Ismail, dalam narasi agung Qurban, bukan sekadar ujian tentang kepatuhan seorang anak. Namun menjadi simbol dari segala sesuatu yang kita peluk terlalu erat hingga jari-jari kita memutih karena takut kehilangan.

Bagi Ibrahim, Ismail maujud mahkota hidupnya. Buah dari doa panjang yang hampir membuat usia lelah menunggu. Maka ketika langit memerintahkan pelepasan, sesungguhnya yang diuji bukan hanya cintanya kepada sang putra, melainkan apakah kecintaan itu telah menggeser posisi nilai tertinggi dalam hidupnya.

Inilah yang jarang kita renungkan dalam konteks kepemimpinan hari ini.

Berapa banyak pemimpin kita yang sesungguhnya sedang mendekap Ismail mereka sendiri? Ada yang mendekap kursi dengan cara-cara yang tak lagi bisa disebut terhormat. Ada yang mendekap jaringan kepentingan yang dipeluk bukan karena nilai yang sama, melainkan karena saling menyimpan tulang-belulang yang tidak boleh terlihat publik. Dan ada yang mendekap citra, nama baik yang dibangun bukan di atas fondasi perbuatan, melainkan di atas tumpukan pencitraan yang cermat dan melelahkan.

Pisau Ibrahimiah yang sesungguhnya adalah kesediaan untuk meletakkan semua itu di altar kebenaran.

Saya pernah menulis tentang perbedaan antara leader dan dealer, antara penanam pohon dan penjual kayu. Hari raya Qurban ini memberi saya satu lensa tambahan yang lebih tajam untuk membedah perbedaan itu.

Seorang dealer, dalam definisi yang pernah saya uraikan, adalah maestro kepentingan (baca esai sebelumnya: Antara Menanam Pohon dan Menjual Kayu: Sebuah Elegi Kepemimpinan). Hidupnya penuh deretan transaksi yang harus dimenangkan setiap hari. Kekuasaan baginya bukan soal warisan peradaban, melainkan soal keamanan posisi hari ini, besok, dan lusa.

Kini pertanyaannya, bisakah seorang dealer berkurban dalam makna yang sesungguhnya?

Jawaban saya, tidak. Sebab berkurban menuntut kerelaan untuk kehilangan. Dan seorang dealer dibangun di atas arsitektur ketakutan akan kehilangan. Ketika tidak bisa melepas Ismail-nya karena seluruh eksistensinya berdiri di atas kelekatan itu. Melepas jaringan berarti melepas kekuatan. Melepas kontrol berarti membuka diri pada kerentanan. Dan bagi dealer, kerentanan sejatinya musuh utama.