Cerpen : Bang Mustafa

Oleh: Adi Arwan Alimin | 26 October 2013 | 06:11 WIB

Seperti akhir malam yang terus berlalu. Jalan aspal yang telah dikupasi zaman itu selalu saja lengang, sepi dalam tepian malam yang memburu pagi. Udaranya yang menggigilkan hanya diserap sejumlah pasang sandal jepit menuju baitullah. Hanya terdapat beberapa jejak pasang kaki yang diseret-seret melawan kantuk ke sebuah bangunan mirip kubus berkubah. Subuh selalu begini dalam hitungan hari beribu kesekian.

“Allahu akbar, Allahu akbar…” suara itu mengiris akhir malam. Mengundang mereka yang dibekap tidur sepanjang malam. Membangunkan tubuh dan hati yang lelap. Tapi panggilan itu hanya mampu membuka beberapa pasang mata yang setelah dikucek-kucek kemudian limbung lagi dalam sekujur bantal guling. Dan, seperti malam yang sudah-sudah, pintu masjid di kampung ini hanya didatangi beberapa pasang alas kaki.

Muadzin kami, Mustafa, dengan suaranya yang merapuh mengulang kalimat agung itu. Mendarasnya bersama keyakinan teguh.

“Allahu akbar, Allahu akbar…” pengeras suara yang melentingkan vokalnya memenuhi langit yang menangkup udara.

Suaranya memantul sampai jauh, menembus semua ruang di sudut-sudut rumah, kamar, kandang, kebun-kebun hingga hutan yang tersisa di bagian utara.

“Ashaduaan LaIlahaillallah…”

Suaranya yang ringkih, masih tegas menyebut kalimat tauhid itu. Tapi sandal di depan pintu masjid belum juga bertambah satu pasang pun. Jumlahnya masih tak lebih dari empat belas, tujuh bagian kiri, tujuh bagian kanan. Inilah angka-angka alas kaki yang menyemut dalam lipatan subuh, dan waktu-waktu shalat lainnya di masjid kami. Itu hitungan jamaah setelah sekian lama masjid itu menjura ke angkasa.

“Ashaduaan LaIlahaillallah…”

Masjid yang dibangun selama bertahun-tahun hingga berdiri megah dan paling indah diseantero kecamatan hanya memiliki pengunjung tetap tujuh, atau paling banyak sepuluh orang. Setiap hari. Karpet-karpet mahal sumbangan seorang tokoh masyarakat, lebih banyak digulung, tersimpan di belakang mimbar. Hanya sebuah karpet panjang yang dibuka untuk menampung jumlah pasang kaki.

Lantainya dari keramik 40 kali 40 sentimeter, dindingnya bercat putih, sedang empat tiang tengahnya yang kokoh dibalur kaligrafi. Sebuah lampu berjuntai berharga jutaan sumbangan tenaga kerja yang merantau ke Timur Tengah melengkapi sepinya ruangan berkipas angin itu. Kubah masjid pun tak kalah indahnya, mirip kubah masjid yang ada di Palestina yang disepuh dengan emas. Dari luar betapa megah tampaknya, meski selama ini hanya ramai ketika jumatan.

“Ashaduanna Muhammadarrasulullah…” Panggilan itu merundukkan daun-daun yang menautkan ibadah diranting-ranting pohon.

Suara parau Mustafa serasa menghiba pada fajar yang sebentar lagi merekah. Udara pun terasa berhenti dalam diam setiap kali kalimat itu membahana di semua gendang pendengaran. Tapi rayuan akhir malam yang dikirim bersama penat yang menidurkan lebih ampuh menggoda mereka yang diamuk mimpi. Sarung tidur disampirkan melewati telinga hingga suara Mustafa lamat-lamat saja memanggil mereka. Seolah-olah panggilan itu menjadi gangguan menyakiti telinga. Seruan yang mungkin tak lagi magis disela selimut sisa ekspor.

“Ashaduanna Muhammadarrasulullah…”

Kemulian subuh hanya menebarkan rintihan pedih di mulut Mustafa. Ia seperti mengeluh dan mengaduh pada junjungannya, ketika muadzin itu tak pernah melihat keriuhan Jumat berlaku pada subuh yang bergemuruh nikmat. Dimanakah anak-anak muda yang seharusnya kini menggantinya membangunkan orang-orang yang dilenakan rasa malas. Dimanakah seperseribu jiwa di kampung ini yang setiap waktu mendengar adzan, yang menurap nama pemilik siang dan malam?

***

Mustafa sebentar-sebentar melirik ke pintu setiap kali ia mencoba merapikan nafasnya. Siapa tahu subuh kali ini, akan bertambah satu orang saja untuk menambah saf-saf yang sebagian hanya diisi udara. Dalam sengal, ia sekali lagi menengok ke pintu. Tapi ia hanya melihat Puaji Syamsuddin yang sejak tadi duduk di dekat pintu menggerus jemari tangan kanannya. Sedang jamaah lainnya tengah menyimak ratapan Mustafa sambil menopang rasa kantuk.

“Hayya alassalat….” bahana itu menyigi pagi buta.

Mustafa yang kini hanya ditopang tulang-tulang tubuhnya yang rapuh. Menarik nafasnya dalam-dalam. Dengus kecilnya sampai terdengar selintas di speker TOA. Pengeras suara ini setia menyalurkan panggilan dari tenggorokannya yang kian menua. Rambut Mustafa kini memutih, punggungnya mulai bungkuk dimakan usia. Tapi semangatnya dialiri gelora seperti Bilal kekasih Rasulullah.

“Hayya alassalat…” ucapan lelaki tua itu menafahus setiap renik subuh.

Fajar di timur membulat. Menyebar ke seluruh cakrawala. Subuh sesungguhnya telah tiba. Waktu yang dihamparkan Langit merentang sebelum penghujung gelapnya malam benar-benar melepaskan tirai. Mustafa masih berdiri di sisi mimbar dari kayu jati. Tangannya menutup dua telinga, hingga ia bisa merasakan kekuatan gema yang memenuhi kepalanya. Ia tak lagi peduli dengan suara yang parau di bawah remang-remang fajar yang menyebar di atas bumi yang dipijaknya.

“Hayya alalfalah… Hayya alalfalah…” Warna merah matahari menyembul mengiring suara Mustafa di ujung malam pekat.

Namun, gerbang halaman masjid hanya menyibak angin sepoi dingin yang menyerbu. Tetumbuhan berisik dalam bilangan tasbih yang tak terdengar. Semut yang berjalan beriringan di atas batu di tengah gelap pagi juga terus mendengungkan kalam menuju kebaikan itu. Segenap alam menanti detik-detik pergantian gulita ke terang.

Dari ujung kampung, kokok ayam mulai terdengar satu-satu. Hingga Mustafa menutup adzan subuh, hanya ada tujuh lelaki yang mengangkat takbir sebelum tenggelam dalam khusuk. Beberapa ibu-ibu kemudian tampak berdiri di belakang hijab kain berwarna hijau pupus. Pemandangan serupa dalam bilangan tahun berganti-ganti.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Langit meninggi di luar masjid memunculkan bintang di bagian barat. Di sisi timur menyembul cahaya merah menyeruak melindap pasti. Kelap-kelip gemintang bak daras tahmid pada penguasa alam. Suasana dimana apapun yang disulurkan ke pelataran doa diijabah.

“LaIlaha Illallahu…” Semesta seketika mengapung dalam timbangan antara maujud dan tak berbentuk. Tiada pilihan kata paling pamungkas dari kalimat itu. Tapi jamaah masih sehitungan jemari tangan. Masjid tetap saja sepi walau para malaikat tengah merubung atap-atap rumah Allah dari bilangan tahun akhirat.

Bang itu pun melebur. Azan itu luruh bergelung di sajadah alam raya. Mustafa segera menyeru iqamat setelah beberapa jamaah usai melakukan sunah dua rakat, dan merapikan doa-doa yang dimakbulkan. Ada wajah yang tertekuk sejurus ubin, ada mata yang menutup rapat penuh ratap. Ada sapuan tangan di wajah berharap asa dikabulkan. Ada malaikat mencatat ritual sarat hakikat. Ada tangis dalam tiris pagi.

Subuh itu dipimpin Hamid seorang ustadz yang merantau dari Nusa Tenggara. Tartilnya menyayat seakan menangisi kala yang seolah-olah takluk oleh dunia. Tajwidnya melepuhkan harapan mereka yang menjemput rezekinya lebih pagi. Subuh saban hari tersungkur dalam dekap mimpi-mimpi yang pasti buyar ketika pagi menyingsing.

Mustafa berdiri persis di belakang ustadz Hamid. Seperti yang dilakukannya puluhan tahun. Entah siapa yang bakal mengganti jejak kakinya dibelakang imam. Sekali waktu ia terbatuk di tengah bacaan kalimat suci. Ini mungkin penanda bahwa seharusnya telah lahir muadzin bersuara lebih merdu. Sejatinya subuh tak lagi diseraki suara dan dengusnya yang uzur… (*)

PadangBulan Mamuju, 9 November 2011

Komentar Anda