fbpx

Film Sexy Killers: Antara Kesadaran Lingkungan dan Dilematis Pilpres

Netizen: Naspadina (sekretaris divisi Media dan Publikasi IPMPY)

Divisi Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA) Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar Yogyakarta (IPMPY) menggelar diskusi dan nonton bareng film dokumenter Ekspedisi Indonesia Biru, Sexy Killers karya WatcDoc. Di asrama Todilaling, pada rabu malam (11/4).

Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta dan juga beberapa dari pemuda asal Sulawesi Selatan yang turut menyaksikan pemutaran film, dimulai pada pukul 19.30 WIB.

Sexy Killers adalah babak terakhir Ekspedisi Indonesia Biru, film dokumenter berlatar sosial, masyarakat, dan lingkungan. Sebuah karya jurnalistik berbasis riset dan data yang menguak tentang dampak pertambangan batu bara sebagai bahan dasar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik pengusaha swasta yang sebagian sahamnya juga milik pemerintah.

Dalam ceritanya, film ini menggambarkan berbagai macam fenomena yang terjadi akibat aktivitas pertambangan, mulai dari adanya korban jiwa akibat lubang-lubang bekas galian batu bara yang tidak direklamasi, keretakan dinding rumah warga akibat pergeseran tanah, keluhan atas kesulitan air bersih, kesehatan masyarakat yang dirampas oleh lingkungan penuh debu, juga mata pencaharian warga yang perlahan-lahan terbunuh oleh aktivitas pertambangan tersebut.

Begitu banyak akibat yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan batu bara sebagai bahan pokok PLTU ini.
kendati demikian, kebutuhan masyarakat akan listrik semakin hari semakin meningkat pula. Banyak aktivitas masyarakat saat ini yang membutuhkan tenaga listrik.

Hal ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh Ilham Rusdi saat memantik forum diskusi bahwa tidak bisa kita pungkiri jika saat ini kita tidak dapat terlepas dari kebutuhan akan listrik. Semuanya membutuhkan listrik.
“Keadaan milenial saat ini tidak terlepas dari yang namanya listrik. Apa-apa, semuanya listrik”
Sementara itu salah satu penonton, Yusril Armin mengatakan bahwa karya audio visual ini selain menarik, juga mampu mengulik kesadaran kita terhadap upaya pelestarian lingkungan.

“Film ini seakan membuka cakrawala dan kesadaran penonton untuk tetap menjaga lingkungan, mengingat begitu banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, jika aktivitas dan analisis dampak terhadap lingkungan tidak seimbang”
Yusril juga menambahkan bahwa sisi unik dari film ini terlihat pula dari akurasi data yang diangkat, serta bagaimana kemampuan pembuat film dalam mengulik isu-isu lama yang tidak kunjung mendapatkan solusi yang baik.

Adapun pada sisi yang berbeda, forum diskusi justru dihebohkan dengan ungkapan-ungkapan dari peserta forum yang terkadang mengaitkan antara isi pesan yang disampaikan dalam film dengan pemilihan presiden yang saat ini masih hangat-hangatnya diperbincangkan.

Belum lagi isi film pada scene menit ke 19.03 sampai 21-39 menampilkan tentang bagaimana calon pemimpin dalam menanggapi isu pertambangan batu bara yang saat ini menjadi masalah baru bagi lingkungan dan juga keberlansungan sumber daya alam yang tak pernah ada habis-habisnya menjadi problematika.

Hal ini tentu menjadi perhatian baru bagi sebagian besar peserta forum, terkait bagaimana masyarakat harus mampu berpikir cerdas dan lebih kritis dalam memilih pemimpin untuk menjawab persoalan kedepannya.
Seperti yang diungkapkan oleh Ilham Rusdi saat berusaha menanggapi kegelisahan dalam forum.

“Mau tidak mau, ini akan berhubungan juga dengan praktik atau pemilihan presiden sebagai pemilik otoritas terhadap pengolahan lingkungan kedepannya”. []

Netizen: Naspadina (sekretaris divisi Media dan Publikasi IPMPY)

error: Content is protected !!