Pemuda Bahas Sejarah Perayaan Valentine’s Day

MAMUJU, Mandarnesia.com — Mengisi akhir pekan dengan kegiatan diskusi, komunitas sahabat hidayah Mamuju
menggelar acara Ngopi (ngobrol perkara iman) di salah satu warkop di Kota Mamuju, Sulbar, Sabtu (09/2/19).

Dihadiri sekitar 200 orang pemuda, pelajar dan mahasiswa, diskusi ini mengangkat judul “Sepotong cokelat dihari merah jambu” menghadirkan pemateri salah seorang pemerhati anak dan remaja, Ustadz Fajaruddin Djarir.

Selaku Ketua Panitia Rahmat Sopyan menjelaskan, kegiatan dalam rangka membuka wawasan agar mengetahui dan memiliki sandaran yang jelas pada sesuatu yang masih kontroversi setiap momen Februari.

“Valentine’s day ini kan masih menjadi bahan perbincangan di kalangan pemuda dan pemudi muslim sampai hari ini. Malam ini kita gelar diskusi dan menghadirkan pemateri untuk mengupas secara tuntas, dan semua audiens juga menyampaikan argumentasinya untuk kita diskusikan bersama,” jelas

Rahmat juga menambahkan komunitas
sahabat hidayah ini setiap pekan rutin melakukan kegiatan diskusi dan literasi termasuk bidang ke agamaan, seperti
bimbingan belajar mengaji bagi pemuda yang buta aksara Al Quran. Termasuk bimbingan penyusunan skripsi dan
berbagai kegiatan positif lainnya.
Seperti mengkampanyekan slogan pemuda sehat tanpa rokok, kegiatan sosial dan lingkungan hidup.

Sementara itu, dalam paparannya Ustadz Fajaruddin mengatakan, perayaan Valentine’s Day ini asalnya dari negara
Barat. Bahkan tradisi di luar Islam, akan tetapi pada kenyataannya tidak sedikit generasi muda muslim yang masih
ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut.

“Valentine’s Day merupakan warisan budaya Romawi kuno, yaitu upacara pemujaan dan penyembahan kepada dua Dewa besar, Leparcus (dewa kesuburan) dan Dewa faunus (dewa alam semesta). Jadi bagaimana mungkin kita yang meyakini Allah Tuhan yang Esa ikut merayakan tradisi penyembahan kepada dewa,” kata Ustadz Fajar

Ustadz Fajar menjelaskan, upacara tersebut dirayakan tepatnya pada tanggal 15 Februari, masa kekuasaan Kaisar Kontantine (280-337M). Dalam upacara tersebut, dia memberikan kesempatan kepada para remaja wanita untuk menyampaikan pesan cintanya kepada pria pujaannya.

Kemudian, para remaja pria akan menerima pesan-pesan cinta tersebut. Mereka berpasang-pasangan, bernyanyi
bersama, berdansa dan biasanya diakhiri dengan perbuatan amoral.

Namun, pada abad ke-5 M, tepatnya tahun 494 M, oleh Paus Glasium I, upacara ini kemudian ditetapkan sebagai peringatan hari kasih sayang (Valentine’s Day). Tanggal peringatan pun diubah menjadi setiap 14 Februari, yaitu
tanggal dihukumnya pendeta Santo Valentine. Sehingga, Paus Glassium I dikenal sebagai pelopor peringatan
Valentine’s Day.

Adapun kondisi hari ini, sebagai pemuda muslim harus memiliki izzah yang kuat dan senantiasa menjaga keyakinan
kita dari penggerusan akidah. Sehingga harus jadi pemuda yang cerdas, kritis, pada hal-hal pokok yang berkaitan
dengan akidah sebagai ummat yang meyakini kebenaran Islam.

Dengan catatan tetap mengedepankan toleransi.

Bahkan Ustadz Fajar mengatakan, tidak semua yang berasal dari
negara luar itu tidak cocok untuk muslim di Indonesia, karena ada beberapa yang sepertinya perlu ditiru, misalnya kedisiplinan dan konsep pelayanan publik di beberapa negara termasuk dari barat.

“Masalahnya sekarang, sebab minimnya filter karena dampak dari rendahnya pemahaman, sehingga hal yang
berkaitan dengan akidah bahkan bertolak belakang dengan budaya kita di Indonesia ditiru semua, ini masalah besar
bagi kita hari ini,” tutup Ustadz Fajar.

Reporter: Sudirman Syarif-Rilis.

Komentar Anda

error: Content is protected !!