fbpx

Jalan Panjang Polewali Mandar Merebut Adipura

Laporan : Wahyudi Muslimin

Kisah Hikmah, Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Polman

Prestasi Adipura oleh Kabupaten Polewali Mandar tidak instan. Banyak hal yang harus dipenuhi. Apa yang diperoleh sekarang ini membutuhkan proses panjang selama tiga tahun lamanya. Bahkan harus menyiapkan segala hal, sebagai penunjang demi mendapatkan hasil yang bagus.

Itulah yang dilakukan Kabupaten Polewali Mandar (Polman), satu dari enam kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat yang mendapat penghargaan Adipura sejak terbentuknya provinsi malaqbiq ini.

Hikmah, Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Polman, kembali menyampaikan rasa syukur karena Polewali Mandar mendapat penghargaan Adipura.

Menurutnya, Piala Adipura adalah bentuk apresiasi bagi pemerintah kabupaten atau kota yang berkinerja baik dalam pengelolaan lingkungan. Khususnya, dalam pengelolaan sampah dan Ruang Terbuka HIjau (RTH).

“Kita berharap partisipasi masyarakat meningkat dan lebih mandiri dalam melakukan pengelolaan sampah,” harap Hikmah.

Penyusunan Kebijakan Strategi Daerah dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, Jakstrada menjadi point penting dalam proses menuju Adipura, pekerjaan ini tidak gampang, menyusunnya membutuhkan energi dan keuletan, tidak sim salabim langsung jadi. Hal ini, ini sudah ditetapkan menjadi peraturan Bupati Polewali Mandar yang akan diukur dalam kurun waktu 2018 sampai dengan 2025 mendatang.

Hikmah banyak menceritakan prosesnya selama ini mulai dari penyusunan Kebijakan Strategi Daerah, mengisi form SIPPSN online, kemudian diminta lagi mengisi format yang offline.

“Hal-hal yang menyedihkan saya saat berada di titik pantau yang kalau sudah dibersihkan, tiba-tiba ada yang sengaja buang sampah. Padahal hanya butuh kesadaran tidak buang sampah sembarang tempat, melakukan pemilahan sampah dan menabung sampah. Yang paling utama, harus terlibat aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan,” urainya lagi.

Adipura ini bukan hanya tentang kebersihan semata, banyak hal yang harus dipenuhi sehingga prosesnya memakan waktu sampai tiga tahun.

“Kami harus mendatangi semua pengumpul sampah untuk tahu berapa data-data sampah yang dikelola. Bagi kami para pengumpul sampah itu adalah pejuang lingkungan, dari mereka saya jadi tahu betapa sampah itu punya nilai dan menjadi sumber pencaharian mereka bahkan mereka bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain,” ungkap Hikmah, yang menyebutkan bahwa dari ibu-ibu pemulung sampah yang di TPA, banyak mendapat pelajaran. Betapa meraka rela bergelut dengan bau sampah untuk bisa membeli beras dan kebutuhan lainnya termasuk alokasi biaya sekolah anaknya. Bagi kami mereka berperan dalam kontirubusinya dalam isian data non fisik.

“Dari mereka kami tahu ada sekian kilo sampah plastik, kertas, logam, kaleng, serta semua jenis sampah yang dibuang ke TPA. Sebagian orang akan berpikir kalau ke TPA pasti yang diraskan adalah bau busuk ataupun lalat yang banyak, ternyata tidak seperti itu, bahkan kami memasak di lokasi TPA dari gas methan yang ada di sana, hasil  dari pembusukan sampah,” ungkap Hikmah.

“Saya yakin hanya mereka yang kuat dan ikhlas yang bisa melakukan ini, karena bagi kami bekerja yang terbaik untuk lingkungan, untuk generasi kita yang akan datang,” tambah Hikmah.

Di awal gerakan Bank Sampah, Hikmah yang seorang kepala bidang harus rela turun tangan sendiri memilah sampah, dan masih dilakukan sampai hari ini. Bahkan ia menyebutkan jika stafnya tidak masuk, maka dia sendiri yang pergi menjemput sampah di bank sampah unit.

“Alhamdulillah, dukungan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar begitu besar,” ungkapnya bangga.

Yang terberat, masih menurut Hikmah, kalau mengajak masyarakat mengelola bank sampah susahnya selangit. Karena ada diantaranya yang berkelit dengan berbagai alasan. Namun itu tak boleh membuat menyerah.

“Pak Darwin Badaruddin, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bappeda Litbang Polewali Mandar, sekali waktu mengeluarkan pepatah Bugis, ketika melihat saya mulai loyo dengan animo masyarakat kita yang terkadang kurang perhatian dalam mengelola sampah. Beliau bilang ke saya, Hikmah resopa temmangngingi naletei pammasedewata…yang artinya jangan bosan hikmah.. kalau sdh begitu ya semangat ki lagi deh…” urai hikmah mengutip Darwin.

Kisah-Kisah Menuju Adipura

Ada kisah yang menyedihkan pada perjalan proses menuju Adipura ini. Begini penuturan Hikmah, “Yang membuat saya paling sedih saat pak Nursam terjatuh di TPA, dan harus dirawat di rumah sakit padahal waktu itu kita lagi membenahi titik pantau, untuk perbaikan dari hasil p2”

“Begitu juga waktu kita mau verifikasi dari sekian hari kami benahi titik pantau pas hari terakhir sebelum tim verifikasi Adipura datang, kami sampai Maghrib di Pasar Sentral benahi kondisi pengelolaan sampah di lantai dua. Pak Nursam begitu gelisah mau pulang saya bilang shalat dulu baru pulang. Dalam kegelisahannya ternyata bapaknya dalam keadaan sakaratul maut,” papar aktivis “sampah” ini.

“Makanya dia mau pulang ke rumahnya saya tahan untuk shalat. Setelah shalat ternyata dia masih lanjut benahi titik pantau yang di Jalan Durian, hingga pukul 9 malam baru pulang ke rumah, barulah dia tahu kalau bapaknya sudah meninggal. Karena tugas beliau tetap komiten melanjutkan kerja. Syukur sudah disiapkan semua dan di cek dari malam sampai kita diverifiikasi semua berjalan lancar,” kenang Hikmah.

Bekerja di Dinas Lingkungan Hidup mengajarkannya untuk mencintai pekerjaan, agar bisa survive meskipun sehari-hari bersama sampah.

“Untuk mengajak orang lain peduli maka kita kita harus menjadi contoh yg baik. Saya juga terus berusaha untuk mengajak orang lain untuk menabung sampah, kami kelihatan kuat dari luar dan dalam. Tapi dibalik itu kami banyak mengalami tantangan yang membuat kita biasa menangis,” ujar Hikmah.

“Yang utama, saya didukung oleh keluarga kecil saya yang rela berbagi waktu. Bahkan saya sering mengorbankan hari libur bersama mereka untuk kerja-kerja di DLHK Polewali Mandar.”

Konsistensi pada pekerjaan, dan keinginan untuk memberikan pengabdian lebih dari sekadar bekerja sebagai Abdi Negara memang tidak mudah. Seperti sulitnya mencari orang-orang seperti Hikmah, dan kawan-kawannya. Selamat merebut predikat Kota Utama bidang lingkungan.

Komentar Anda

error: Content is protected !!