Membangun Energi Spritualitas di Monas

Laporan: Hajrul Malik

[perfectpullquote align=”left” bordertop=”false” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]ALLAHU Akbar. Sejak pukul 03.00-04.00 qiyamullail tepat dilaksanakan hanya empat rakaat dan witir 3 raka’at, namun berdiri saat qunut witir hampir sama lama berdirinya dengan tujuh rakaat seluruhnya. Tentu air mata tak terbendung bergemuruh mengaminkan doa witir yang cukup panjang itu.[/perfectpullquote]

Belum lagi reda cucuran air mata, adzan shubuh dikumandangkan, dilanjutkan dua rakaat sebelum subuh. Sholat dipimpin oleh KH. Natsir Zain, dilakukan dengan qunut subuh dan qunut nazilah untuk kejayaan Indonesia dan atas seluruh musibah yang silih berganti menimpa negeri ini. Doa qunut lebih panjang dari dua rakaat berdiri.

Ustadz Muhammad Natsir Zain membaca surat Al Munafiquun. Saya dua hari berturut-turut menjadi makmun dengan Surat ini. Sehari sebelumnya maghrib di Depok imam seorang anak muda, Ustadz Saiful Al hafiz juga membaca surah ini. Ada ketakutan tersendiri mengingatkan akan bahaya sifat sifat munafik jika menimpa kaum ini, atau siapapun diantara mereka.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. ” (QS Al-Munafiqun : 1)

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Munafiqun : 2)

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti. ” (QS Al-Munafiqun : 3)

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tuturkatanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS Al-Munafiqun : 4)

Indonesia RayaMerdeka merdekaTanahku negerikuYang kucintaIndonesia RayaMerdeka merdekaHiduplahIndonesia Raya.Ummat sama dengan NKRI.Jadi lupakan kalau kamu anti NKRI.Saat lagu Indonesia Raya berkumandan di Area 212 Monas,

Dikirim oleh Hajrul Malik pada Minggu, 02 Desember 2018

Masya Allah. Beberapa ayat yang dibaca sampai imam tuntas selesai di rakaat kedua. Sungguh energi yang dihasilkan suasana subuh ini akan ketakutan pada Allah. Semoga dijauhkan dari perilaku kemunafikan ini, sebab bisa saja menimpa siapapun. Sampai suatu hari salah seorang sahabat Nabi SAW Khanzalah, suatu saat berlari sambil berteriak-teriak, “nafaqah Khanzalah, nafaqah Khanzalah”
Lalu Sahabat Abu Bakar Ra. Bertanya, “Ada apa ya Khanzalah?”

Khanzalah menjawab, “Kalau kami bersama Rasulullah Saw mendengar tausiyahnya, kami menangis, lalu jika kami meninggalkan majelis saya tertawa terbahak bahak. Jangan-jangan saya telah Munafik.”

Demikian sepenggal kisah sahabat seorang Khanzalah yang hidup bersama Rasulullah SAW, pun masih dibayangi ketakutan akan sifat kemunafikan ini. Semoga kita, keluarga dan bangsa serta Umat ini dihindarkan dari sifat munafik dan perilaku kemunafikan. Untuk terwujudnya Indonesia, NKRI sebagai negeri yang baldatun thayyibatun qarabbun Ghafur.

Monas, 2/12/2018

Foto & Video : FB Hajrul Malik

Komentar Anda