Sri Mulyani, dan Segudang Karya Mendunia

KETUA Pusat Olah Seni dan Budaya Mulyo Joyo Enterprise Surabaya, Sri Mulyani dijadwalkan akan pentas di panggung utama Polewali Mandarnesia International Folk and Art Festival (PIFAF) 2018, Sabtu (4/8) malam di area Sport Center Polewali Mandar.

Lahir 24 November 1975 di Surabaya. Sri Mulyani dikenal sebagai koreografer yang cukup berpengalaman. Sepak terjangnya dalam dunia tari tak diragukan dalam setiap unjuk karya-karyanya.

Sri Mulyani dibesarkan di lingkungan dunia tari. Sejak kecil sudah berlatih menari. Nafas dan kerinduan akan makna-makna dalam setiap gerak tari hingga kini masih mengusik hatinya dalam pencarian jati diri di hamparan gerak dan ruang dunianya tanpa batas.

Pengalaman dan prestasi yang pernah dilakukan Sri Mulyani, baik pengalaman sebagai penari, workshop tari, kolaborasi, penata tari maupun berkiprah pada seni pertunjukan. Segudang pengalaman telah ia raih.

Berikut deretan prestasi yang pernah diraih Sri Mulyani.

Di tahun 1997 berkolaborasi dengan seniman Perancis, dalam kerjasama pemerintah Indonesia dan Perancis bertajuk Festival Tour de France. Pertunjukan keliling di 25 kota yang menghabiskan waktu tiga bulan mengusung cerita dari Iraq mengenai sejarah Mesopotamia, berjudul Pengembaraan Gilgamesh L’eppope de Gilgamesh.

Di tahun 2004 Sri Mulyani kembali mengadakan pertunjukan pada acara Indonesia Festival di Darling Harbour, Sydney Australia. Di dalam acara ini pula telah memberikan workshop tari, musik Karawitan dan tembang pada mahasiswa Universitas of Sydney.

Di tahun yang sama sukses besar telah diraih Sri Mulyani, saat bergabung dengan kelompok musik Etnik Kontemporer Gamelan Performance dari Sidoarjo Jawa Timur dan berkolaborasi dengan kelompok musik Khahanan Jakarta. Kesuksesan pada kegiatan ini tidak terlepas dari peran penting Sri Mulyani sebagai koreografernya.

Di awal tahun 2005, Tari Panji Klaras Keboan Sikep telah menuai sukses pada peristiwa perhelatan pertunjukan Tari di Jawa Timur yang kemudian digelar di Jakarta pada FKTI atau Festival Karya Tari Indonesia. Hasilnya, koreografinya mendapatkan predikat juara umum. Puncaknya pada pagelaran akbar Nasional yaitu pada 65 tahun Indonesia Merdeka di Istora Senayan Jakarta.

Tahun 2006 Festifal Cak Durasim yang diselenggarakan oleh Taman Budaya provinsi Jawa Timur telah memilih karya Sri Mulyani sebagai penampil utama. Pada kesempatan ini karya yang ditampilkan berjudul Payah. Di tahun yang sama karya ini pula ditampilkan Koreografi Lintas Generasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Di tersebut tari panji Klaras Keboan Sikep juga telah terpilih sebagai Performer Utama pada IDF VIII atau Indonesian Dance Festival ke VIII di Gedung Kesenian Jakarta.
Di tahun yang sama Sri Mulyani telah unjuk karya seni pertunjukan yang meramu musik gamelan dengan mengambil spirit karya sastra besar ceritera Ramayana yang diberi judul Sukesi Swargo, karya ini telah dapat mengambil hati penonton di acara Festival Ramayana Internasional yang diselenggarakan di Pulau Dewata Bali.

Setelah meraih sukses tersebut, pada tahun 2007 Sukesi Swargo telah diusung ke Jawa Tengah tepatnya di Surakarta, acara ini diprakarsai oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata Jakarta, dengan tajuk Indonesia Performing Arts Mart 2007.

Karya tari yang berjudul Negeri Limbah tahun 2007 telah ditampilkan di Festival Cak Durasim, Gedung Cak Durasim Kompleks Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Koreograpi Negeri Limbah ini, terinsipirasi sebuah negeri yang tak ubahnya sebagai tempat pembuangan akhir.

Tahun 2008 pemerintah Provinsi Jawa Timur, dengan melalui sub dinas kebudayaan Dinas P Dan K provinsi Jawa Timur telah mendapatkan undangan untuk tampil pada acara Mesir Annual Festival di kota Manisa, provinsi Izmir Negara Turkiye. Keterlibatan delegasi kesenian Jawa Timur telah memilih Sri Mulyani sebagai penata geraknya.

Di tahun 2008, Sri Mulyani telah terpilih oleh para Mentoring IDF 9th atau Indonesia Dance Festival ke 9 dengan judul karya Sri Boyong, yang ditampilkan di Theater kecil kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Di tahun 2009 pada tanggal 6 bulan Juni, karya Sri Mulyani yang berjudul Kidung Banjar Panji diundang untuk tampil di acara Opening IPAM 2009 di Mangkunegaran, Surakarta.

Tahun 2010 bulan Juni, Sri Mulyani Menciptakan karya Abhabha’ yang mengangkat spirit sisi kehidupan masyarakat Pandalungan dengan diekspresikan dalam karyanya yang berwujud para wanita pekerja buruh tambak tapi dia masih mengais rejeki melalui kesenian dengan berprofesi sebagai sinden atau tandak. Karya ini terpilih sebagai karya terbaik Pekan Seni Mahasiswa tingkat Regional se-Jawa Timur.

Pada tanggal 20-24 Juni 2010 Sri Mulyani ditunjuk sebagai Koreografer Jawa Timur untuk kolaborasi dalam seni pertunjukan yang berjudul Lur Gulur E Tanah Kapoor ditampilkan di Temu Taman Budaya Se Indonesia di gedung Hindustan Riau, Sumatra.

Pada bulan September 2010, Sri Mulyani menciptakan karya berjudul Mapangha’ Bhalabar’ untuk ujian karya akhir S1 di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Sebuah karya yang mengangkat upacara pemutusan tujuh nafsu kejahatan dalam diri manusia, yang bersumber dari budaya masyarakat Madura barat seperti daerah Sumenep dan sekitarnya.

Di tahun yang sama pada bulan Oktober 2010 Sri Mulyani menciptakan karya Bedhaya Cakra Manggilingan terpilih 10 Penyaji terbaik se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Budaya provinsi Jawa Timur di Gedung Cak Durasim Surabaya.

Pada tahun 2011 bulan Maret 2011, Sri Mulyani menciptakan karya tari Satriya Jenggolo, yang ditampilkan di acara Apresiasi seni bagi Guru dan Siswa di Puspo Agro Jemundo Sidoarjo. Acara tersebut diselenggarakan oleh UPT. Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Sekolah Provinsi Jawa Timur. Dengan mengangkat spirit siswa-siswa putra tingkat sekolah dasar yang semangat belajar di sekolahnya tapi mereka juga punya kemauan untuk belajar berkesenian tari. Hal ini karena upaya Sri Mulyani ingin memupuk pada siswa putra mulai tingkat sekolah dasar, agar lebih banyak yang mencintai dan mau belajar kesenian tradisional melalui seni tari. Sehingga di Jawa Timur banyak terlahir penari putra.

Tanggal 13-16 April 2011 Sri Mulyani mengusung karyanya yang berjudul Kamalagyan tampil pada acara Pasamuan Kerukunan Antar Umat Beragama Internasional di Gianyar, Bali. Karya ini tercipta karena terinpirasi dari prasasti Kamalagyan yang ada di desa Waringin Sapta kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo yang di bangun oleh Raja Airlangga. Dibatu Prasasti tersebut tertulis dalam bahasa sansekerta tentang aliran bendungan air yang telah dibangun sebagai tanda agar masyarakat menjaga keadaannya dalam hidup senantiasa dapat terselamatkan dari bencana, kehidupannya makmur dan tentram serta damai.

Pada tanggal 5 – 10 Juli 2012. Panggung Gembira, Promosi UKM dan Pameran Produk TKI Kreatif Tahun 2012, di Victoria Park Hong Kong.

Pada tanggal 8 Juli 2012, menciptakan karya tari YOSAKOI yang ditarikan oleh 30 (tiga puluh) Karyawati PT SAI Kabupaten Mojosari Provinsi Jawa Timur dengan iringan musik Yosakaoi dari Japan. Yang dikutsertakan dalam Festival Yosakoi yang diselenggarakan oleh Konsulat Jepang dan Pemerintah Kota Surabaya. Dan meraih Juara Umum.

Pada tanggal 16 – 20 Agustus 2013 tampil pada acara Panggung Gembira, di Victoria Park Hong Kong, dengan tema “ Menjaga Stabilitas politik dan Pertumbuhan Ekonomi Kita Guna Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat.

Pada Bulan Mei 2014 Sri Mulyani Kembali berkiprah dalam melahirkan karya barunya berjudul ONCOR TAMBAYU yang mengusung Oncor Bambu bukan semata mata berwujud cahaya penerang dalam gelap, saat digunakan syukuran panen tambak, tetapi merupakan symbol penerang dalam ajaran kehidupan. Karya ini mengambil dan mempelajari makna Oncor Bambu sebagai penyemangat masyarakat Tambak Medokan Ayu (Tambayu) untuk pantang menyerah dalam mengelola tambak dan selalu mensyukuri hasil panennya. Karya ini meraih penghargaan 10 karya tari terbaik di Kota Surabaya yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Surabaya.

Pada bulan Agustus 2015 Sri Mulyani menciptakan karya tari baru berjudul Kharisma Surabaya, yang terinspirasi oleh sosok pemimpin yang sederhana telah memberi spirit membangun Citra Kota Surabaya yang semakin moncer prestasinya dan kini saatnya sebagai generasi muda kita teruslah membangun Surabaya. Karya ini meraih penghargaan terbaik unggulan dalam program Festival cipta karya tari Surabaya diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Surabaya.

Salut buat Sri Mulyani. (*)

Komentar Anda