fbpx

Roh Reformasi, Refleksi 20 Tahun PAN

Oleh Muhammad Asri Anas
Ketua DPW PAN Sulbar

RASANYA semua baru kemarin. Dua puluh tahun silam, saya adalah seorang mahasiswa yang gelisah melihat kondisi negeri ini. Tahun 1998, tahun yang penuh gejolak. Ekonomi terpuruk, korupsi merajalela, kerusuhan marak. Rakyat menjerit karena kesulitan hidup. Nurani saya berdetak dan menggerakkan tubuh saya untuk aksi di jalanan.

Keadaan di masa itu tak semudah yang digambarkan. Mereka yang di masa kini tiba-tiba saja mengklaim diri sebagai tokoh reformasi. Mahasiswa juga terjebak dalam hedonisme dan hasrat untuk mapan. Saya dan beberapa kawan dicap sebagai mahasiswa aneh karena setiap hari memilih jalan demonstrasi demi mengkritik rezim.

Ada panggilan sejarah yang mengetuk batin. Memanggil dalam diri yang mengingatkan bahwa negeri ini butuh diingatkan. Ada semangat yang menyala dan harus diwujudkan dalam aksi di jalanan. Kami, para mahasiswa, harus turun ke jalan dan melawan semua rezim dengan tangan terkepal. Kami menduduki kantor DPRD, juga jalan-jalan, sembari menyampaikan tuntutan dan menyanyikan lagu Iwan Fals.

Kami memilih jadi kerikil di sepatu para pejabat negeri. Dengan hanya menenteng megaphone saya mengajak mahasiswa untuk turun ke jalan dan menggebrak. Kami ingin menggelisahkan mereka. Tak sekadar kerikil, kami juga jadi rumput liar yang memenuh tembok hingga akhirnya akar, kami merobohkan tembok itu.

Salah satu masa yang saya kenang adalah ketika Amien Rais datang ke kampus Unhas. Gerakan perlawanan bergelora. Para mahasiswa lalu turun ke jalan. Tiada hari tanpa berdemonstrasi. Hingga akhirnya, Soeharto jatuh. Gerakan kami tak pernah berhenti. Kami terus mendesak agar reformasi dilaksanakan di semua daerah.

20 tahun silam, Partai Amanat Nasional (PAN) berdiri, tepatnya 23 Agustus 1998. Saya masih ingat betul bagaimana partai ini lahir dari rahim reformasi. Petinggi partai ingin mengoreksi kebijakan pemerintah yang dirasanya banyak menyimpang. Partai ini hadir membawa harapan baru tentang Indonesia yang lebih adil dan lebih sejahtera. Indonesia yang bahagia penduduknya.

Sepanjang 20 tahun itu, silih-berganti para petinggi partai. Bahkan, saya yang di masa awal hanya sebagai penyaksi, kini menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN di Sulawesi Barat. Itulah dinamika hidup. Selalu ada regenerasi. Selalu ada generasi baru yang datang dan coba mengalirkan energi reformasi yang sejak awal menjadi kompas dan matahari ke mana hendak bergerak.

Jika hari ini PAN merayakan hari jadi ke-20, maka seyogianya diikuti refleksi. Betapa jauhnya perjalanan partai, tapi tantangan juga makin kompleks. Negeri ini justru kembali pada keadaan ketika partai hadir. Banyak masalah dan penyakit sedang menggerogoti tubuh bangsa yang kian rapuh ini. Saatnya mengembalikan marwah partai sebagai ruang gerak dan ekspresi. Saatnya mengepalkan tinju untuk mengembalikan bangsa ke rel reformasi.

Tentu saja, saya tak perlu turun ke jalan lagi bersama mahasiswa. Biarlah mahasiswa hari ini yang menuntaskan agenda reformasi itu. Saya memilih jalan perjuangan yang lain, yakni dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Jalan ke arah itu memang terjal. Tapi sebagai mantan aktivis dan demonstran, tak ada hal mustahil. Rezim yang begitu kuat dan kokoh saja bisa ditumbangkan. Masak, kita tidak bisa bikin kekuatan baru di Senayan demi mengembalikan bangsa kita sesuai roh reformasi.

Semoga niat baik dan doa saya didengarkan alam semesta. Semoga nurani kita semua tetap terketuk dan setia berbuat baik untuk bangsa dan negara yang kita cintai. Semoga kita selalu jadi sosok dalam syair Mars PAN: “Engkau bagai matahari bangsa. Pancarkan sinar tanah pertiwi. Tumbuhkan kehidupan demokrasi. Untuk Indonesia!”

Jayalah PAN. Mari Bela Rakyat. Mari Bela Ulama.

Komentar Anda