Muatan Bahasa Daerah di Mapel Mulok Dibatalkan

Mandarnesia.com — Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat memutuskan membatalkan muatan bahasa daerah dalam materi pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Hal tersebut dilakukan untuk meredam masalah yang mungkin berkembang.

“Iya. Diantaranya itu karena kita melihat potensi untuk masih berkembangnya berbagai masalah di internal,” kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Arifuddin Toppo kepada mandarnesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (10/8/2018).

“Penutur-penuturnya itu yang kita harapkan agar bagaimana ada kesepakatan dulu,” sebut Arifuddin.

Arifuddin menyampaikan, masih ada muatan lokal selain bahasa yang masih ada. Misalnya, seni dan kuliner.

“Secara internal yang penting sekarang ini bagaimana bahasa itu tidak punah. Jadi bagaimana kesadaran generasi muda untuk bisa mempertahankan bahasa leluhur itu,” jelas Arifuddin.

Apakah terintegrasi dengan mata pelajaran tertentu, jelas Arifuddin, tergantung bagaimana kemampuan guru untuk memasukkan nilai-nilai kearifan agar generasi ke depan tidak meninggalkan kearifan lokal.

Secara terpisah Adi Arwan Alimin menuturkan, penguatan bahasa daerah dapat diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran, dan geokultur.

“Ini sangat tergantung pada setiap guru bidang studi, dimana ia mengajar. Secara subtansi yang ingin kita pertahankan bagaimana pengetahuan kebahasaan ini, generasi muda kita ikut melestarikan bahasa daerah,” ujar Adi Arwan Ketua Dewan Kebudayaan Mandar Sulawesi Barat (DKMSB) 2007-2012 ini.

Menurutnya, pengajaran muatan lokal bahasa daerah sebaiknya mengadaptasi pendekatan dimana peserta didik itu berada atau bersekolah. “Kita memiliki kekayaan dialek yang luar biasa, ini yang mesti dilestarikan tanpa menjunjung satu aspek kebahasaan saja,” sambung penyelenggara Pemilu yang juga dikenal sebagai pegiat budaya.

Reporter: Sudirman Syarif

Komentar Anda