Esensi Qurban dan Refleksi Perjalanan Haji Para Ulama

(Disampaikan pada Khutbah Ied Adha 10 Dzulhijjah 1439 h/22 Agustus 2018 di Lapangan Pancasila Polewali)

Oleh: DR. Aco Musaddad HM.

Terdapat tiga pelajaran yang dapat kita petik dari esensi qurban dan refleksi perjalanan haji mandar, yaitu;

Pertama: Belajar tentang keteladan ;

 “الحجعرفة” (haji adalah berwukuf di arafah). Karena itu, secara fiqih, wukuf di arafah disebut sebagai rukun haji. Setiap jamaah haji wajib berada di arafah dalam kondisi apapun. Mereka yang sehat berada di tenda-tenda berdzikir, mereka yang sakit diantar dengan ambulans agar tertunaikan haji mereka.

Prosesi ibadah haji itu sendiri dimulai dari tanggal delapan dzulhijjah yaitu ketika jamaah haji ber-tarwiyah di mina. Apa maknanya? Tarwiyah bermakna berpikir atau merenung. Dengan demikian, hari tarwiyah disebut juga hari merenung, berpikir dan memantapkan niat perjalanan.

Seperti kita ketahui, haji adalah napak tilas perjalanan nabi ibrahim yang hendak membuktikan cintanya pada allah swt. Pada suatu hari di bulan dzulhijjah, nabi ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Dia lalu merenung, apakah ini perintah allah? Nabi ibrahim as merasa ragu tentang kebenaran mimpinya tersebut. Apakah mimpi itu benar berasal dari allah sehingga menjadi suatu perintah yang harus dikerjakan, atau hanya berasal dari syaitan untuk mengganggunya. Sampai siang harinya, nabi ibrahim terus berpikir dan merenung tentang mimpinya tersebut.

Pada malam tanggal 9 zulhijjah, nabi ibrahim as kembali mengalami mimpi yang sama, yaitu menyembelih putranya ismail as. Mimpi kedua kalinya. Ini mulai menimbulkan keyakinan dalam hati nabi ibrahim as bahwa perintah ini benar berasal dari allah swt.

Ini dapat dihubungkan dengan nama hari kesembilan bulan zulhijjah, yaitu hari arafah. Arafah bermakna pemahaman atau pengetahuan.maksudnya, nabi ibrahim as sudah mulai paham tentang kebenaran dan tujuan mimpinya.akan tetapi, nabi ibrahim belum melaksanakan perintah dalam mimpinya tersebut.

Pada malam tanggal 10 zulhijjah nabi ibrahim kembali mengalami mimpi serupa. Oleh karena mimpi ini telah tiga kali terjadi, maka besoknya (siang hari tanggal 10 zulhijjah) nabi ibrahim as memutuskan untuk melaksanakan mimpi tersebut setelah terlebih dahulu berdiskusi dengan anak dan istrinya.

Ketetapan nabi ibrahim as untuk melaksanakan penyembelihan ismail as pada hari itu dapat dihubungkan dengan nama hari tanggal 10 zulhijjah yang disebut juga dengan hari nahar. Nahar berarti menyembelih. Sedangkan pada hari 11-12, dan 13 zulhijjah, nabi ibrahim selalu digoda oleh iblis maka hari itu disebut hari tasyriq.

Keraguan yang dialami oleh nabi ibrahim as tersebut dapat dimengerti dan dipahami. Betapa tidak, nabi ibrahim as diperintahkan menyembelih anaknya sendiri, anak yang cukup lama diharapkan kehadirannya. Sekian lama nabi ibrahim as memohon kepada allah swt agar dikaruniai seorang anak. Akhirnya permohonan nabi ibrahim itu dipenuhi dengan lahirnya seorang anak laki-laki yang diberi nama ismail.

Sungguh gembira hati nabi ibrahim menyambut kehadiran ismail. Akan tetapi, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Dikala ismail masih bayi, dia terpaksa dipindahkan bersama ibunya, siti hajar, dari syam ke lembah gersang yang sunyi di makkah. Maka berpisahlah nabi ibrahim as dengan anak dan istri yang sangat dicintainya. Sampai akhirnya mereka dipertemukan lagi di makkah ketika ismail sudah beranjak dewasa.

Pertemuan yang kedua inipun tidak berlangsung lama. Mimpi yang benar dari allah swt. Yang berisi perintah penyembelihan ismail harus dilaksanakan. Mana mungkin dia harus menyembelih anaknya sendiri.

Mana mungkin anak yang selama ini hanya dibesarkan oleh jerih payah ibunya yang berjuang sendiri menghidupi dan membesarkan anaknya, lalu tiba-tiba dia datang dan membawa pergi anak tersebut untuk disembelih. Sungguh suatu keadaan dan pilihan yang sangat berat bagi nabi ibrahim. Wajar jika dia berpikir, merenung, dan ragu terhadap apa yang sedang dialaminya.

Cobaan yang sama beratnya juga dialami ismail as dia harus menyerahkan lehernya untuk disembelih oleh ayah kandungnya, yang selama proses pertumbuhannya hampir tidak pernah dilihatnya. Dia juga harus meninggalkan ibunda tercinta yang selama ini telah bersusah payah sebatang kara mendidik, merawat dan membesarkannya. Dia belum sempat membalas jasa-jasa ibunya siti hajar.

Setelah ayah dan anak itu sepakat untuk melaksanakan penyembelihan, mereka berjalan menuju suatu bukit batu yang kemudian disebut jabal qurbati (bukit qurban). Dalam perjalanan, iblis menggoda dengan membujuk keduanya agar penyembelihan ismail tidak dilaksanakan. Nabi ibrahim as dan ismail tidak mau tergoda. Mereka melempar iblis dengan batu kerikil supaya menghentikan godaannya. Akan tatapi iblis tatap mengejar mereka dan kembali membujuk agar niat mereka itu diurungkan. Namun keduanya tetap berbulat tekad untuk melaksanakannya. Kembali mereka mengusir dan melempar iblis tersebut.

Demikianlah peristiwa pelemparan iblis terjadi di tiga tempat. Ketiga tempat itulah yang disebut dengan jumrah aqabah, wustha, dan ula. Peristiwa besar yang merupakan ujian berat bagi kedua orang rasul allah yang amat tabah itu.

Kedua orang tersebut sungguh manusia pilihan yang amat patuh dan taat kepada perintah allah, walaupun perintah tersebut amat berat. Dalam ujian tersebut mereka lulus dengan sempurna, maka dengan seketika allah mengganti ismail dengan seekor hewan korban dan menyatakan bahwa perintah allah lewat mimpi ibrahim itu adalah ujian-nya.

Karenanya allah memberi balasan yang baik baginya, namanya harum sepanjang masa dan ia menjadi teladan bagi nabi-nabi yang datang sesudahnya. Jejak sejarah yang ditinggalkan oleh keluarga ibrahim as di atas kemudian dikukuhkan oleh nabi muhammad saw seperti yang tercermin dalam ibadah haji yang merupakan napak tilas perjalanan nabi ibrahim dan anaknya ismail. Tidak saja dari segi perbuatannya tetapi juga hari-hari yang dijalani keluarga ibrahim ini diabadikan dalam ibadah haji.

Maka, betapa agung cinta ibrahim. Karena itulah, dia digelari “khalilullah”; kekasih allah. Sepanjang sejarah, tak ada manusia berani meletakkan golok di leher anaknya semata karena kecintaannya pada allah.

Persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan manusia juga dikenal peradaban arab sebelum islam. Disebutkan dalam sejarah bahwa abdul mutalib, kakek rasululluah, pernah bernadzar kalau diberi karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih satu sebagai qurban. Lalu jatuhlah undian kepada abdullah, ayah rasulullah. Mendengar itu kaum quraish melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya abdul mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta. Karena kisah ini pernah suatu hari seorang badui memanggil rasulullah “hai anak dua orang sembelihan” beliau hanya tersenyum, dua orang sembelihan itu adalah ismail dan abdullah bin abdul mutalib.

Islam mengakui konsep persembahan kepada allah berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan terhadap allah. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya. Dalam hadist riwayat ahmad, ibnu majah dan tirmidzi dari zaid bin arqam, suatu hari rasulullah ditanyai “untuk apa sembelihan ini?” belian menjawab: “ini sunnah (tradisi) ayah kalian nabi ibrahim a.s.” lalu sahabat bertanya:”apa manfaatnya bagi kami?” belau menjawab:”setiap rambut qurban itu membawa kebaikan” sahabat bertanya: “apakah kulitnya?” beliau menjawab: “setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan”.

Adapun dalil-dalil qurban:

Yaitu; firman allah dalam surah al-kauthar: “maka dirikanlah shalat karena tuhanmu; dan berkorbanlah”. Ayat ini boleh dijadikan dalil disunnahkannya qurban dengan asumsi bahwa ayat tersebut madaniyyah, karena ibadah qurban mulai diberlakukan setelah beliau hijrah ke madinah.

Kemudian hadits riwayat bukhari dan muslim dari anas bin malik r.a.:”rasulullah berqurban dengan dua ekor domba gemuk bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau dengan membaca bismillah dan takbir, beliau menginjakkan kakinya di paha domba”.

Kedua; haji adalah panggilan allah

Hadirin dan hadirat, kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat idul adha yang mulia.

Haji adalah panggilan allah, siapapun yang ia kehendaki pasti akan datang menjadi tamu allah. Pada hari ini, sekitar dua juta umat manusia sedang menunaikan ibadah haji termasuk jama’ah haji kabupaten polewali mandar yang berjumlah 508 jama’ah. Mereka mengenakan kain ihram yang sama, bersatu dalam gema talbiyah, menyambut seruan allah swt.

Manusia datang dari segala penjuru dunia. Bahkan telah diberitakan oleh surat kabar harian al-arabiyah dan gulf news, seorang jamaah haji asal cina datang menggunakan sepeda. Ia mengayuh sepeda sejauh delapan ribu seratus lima puluh kilometer dari kota kelahirannya di xinjiang untuk sampai ke kota suci mekkah al-mukaramah.

Perjalanan seperti itu tentu terasa sangat berat dan meletihkan, tetapi karena kesabaran yang dimiliki begitu kuat selama perjalanan yang memiliki banyak tantangan serta kecintaan kepada allah dan menapaki jejak rasulullah saw telah membuatnya mampu melewati keletihan, meninggalkan kemalasan dan bersemangat menyambut seruan allah swt.

Orang-orang tua kita dulu pun berhaji dengan cara yang hampir tak masuk akal.

Sejarah haji di nusantara dimulai pada abad ke-16 saat kerjasama perdagangan dengan arab semakin marak. Perjuangan warga yang ingin pergi ke tanah suci tidak mudah. Mereka harus berjuang menempuh perjuangan panjang agar bisa datang ke baitullah. Berikut ceritanya.

Cerita dimulai pada awal abad 16, saat itu hubungan antara nusantara dengan arab memasuki babak baru. Hal tersebut ditandai dengan semakin maraknya pedagang sekaligus ulama nusantara yang ikut serta dalam pelayaran ke asia barat. Pada tahun 1526 armada dari nusantara, khususnya dari aceh, memulai pelayarannya ke jeddah untuk berdagang.

Mereka kemudian banyak yang menetap di haramain sembari menuntut ilmu agama. Disebutkan dalam buku “historiografi haji indonesia” karya shaleh patuhena, pada tahun 1556 telah ada lima kapal besar aceh yang berlabuh di jeddah. Ulama aceh yang berdatangan ke tanah arab itu selain menimba ilmu ternyata juga manfaatkan waktunya untuk berhaji.

Selama mencari pengetahuan bersama ulama-ulama besar di arab ternyata di saat yang sama bangsa eropa mulai melakukan pelayarannya ke nusantara. Mereka ingin mencari harapan baru setelah pusat perdagangan di Konstantinopel, Turki ditutup.

Perjalanan panjang dan berbahaya sebelum ada kapal api, telah dilakukan oleh umat islam nusantara di masa pendudukan belanda, perjalanan haji tentu saja harus dilakukan dengan perahu layar, yang sangat tergantung kepada musim. Dan biasanya para haji menumpang pada kapal dagang, berarti mereka terpaksa sering pindah kapal. Perjalanan membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di nusantara. Jama’ah haji dari mandar, bugis dan makassar harus menumpang kapal dagang yang menuju pulau jawa, kemudian pindah kapal dagang lainnya yang mengangkut menuju sumatera. Kota  aceh sebagai pelabuhan terakhir di indonesia (oleh karena itu dijuluki ‘serambi makkah’), di mana mereka menunggu kapal ke india. Di india mereka kemudian mencari kapal yang bisa membawa mereka ke hadramaut, yaman atau langsung ke jeddah. Perjalanan ini bisa makan waktu setengah tahun sekali jalan, bahkan lebih. (perjalanan sultan haji dari banten, yang sudah pulang satu setengah tahun setelah berangkat, terhitung cepat). Dan para jama’ah haji berhadapan dengan bermacam-macam bahaya. Tidak jarang perahu yang mereka tumpangi karam dan penumpangnya tenggelam atau terdampar di pantai tak dikenal. Ada haji yang semua harta bendanya dirampok bajak laut atau, malah, awak perahu sendiri. Musafir yang sudah sampai ke tanah arab pun belum aman juga, karena di sana suku-suku badui sering merampok rombongan yang menuju makkah. Tidak jarang juga wabah penyakit melanda jemaah haji, di perjalanan maupun di tanah arab.

Naik haji, pada zaman itu, memang bukan pekerjaan ringan. Beberapa ulama Mandar yang melaksanakan haji di era tahun 1700-an hingga 1800-an mersakan perjalanan yang sangat sulit dan melelahkan ini, di antaranya Syekh Maemanah Bin Abdullah Atau Annangguru Matowa, Syekh Nuh Bin Maemanah (Annangguru Nuh) keduanya adalah imam mesjid taqwa pambusuang di era tahun 1793-1858, dan Sayyid Alwi Pimpinan Pengajian Kitab di Mandar,  kemudian di era tahun awal 1900-an adalah annangguru h. Muh. Thair Imam Lapeo, Annangguru Shaleh, Annangguru Ma’deppungan, pimpinan, mereka menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal laut, diterpa ombak dan badai, ditemani gelombang surut dan pasang, diiringi keheningan malam yang mencekam, mereka bersemangat menuju baitullah al-haram. Dengan bermodalkan kapal laut dan perahu layar, mereka arungi laut dan samudera agar bisa sampai ke tanah suci, menatap baitullah, bersimpuh di makam rasulullah saw.ini adalah kesabaran yang luar biasa selama dalam perjalanan. Dan pada umumnya ulama mandar ini kemudian bermukim di makkah untuk memperdalam ilmu agama. Di era ini masih sangat minim orang yang mampu menunaikan ibadah haji, selain karena faktor biaya karena harus membawa bekal yang banyak, juga karena kemampuan fisik untuk mampu bertahan di lautan berbulan-bulan, olehnya itu mereka yang berhasil menunaikan haji dengan selamat tiba di tanah air, maka para raja-raja saat itu memberikan gelar kepada mereka dengan menambahkan kata “haji” di depan namanya, sebagai bukti penghargaan.

Dalam catatan sejarah, hubungan mandar dengan hadramaut dan mekkah sudah terjalin sekitar abad 17, dibuktikan dengan banyak para habaib dan ulama yang datang ke Mandar di era itu untuk menyiarkan islam diantaranya Syekh Zakariah Al-Yamani, Syekh Abdullah Mannan, Syekh Ma’ruf Binuang, dan Syekh Alwi dan masih banyak lagi.

Ketiga; Haji sebagai Inspirasi Perubahan

Banyak ulama terdahulu menunaikan ibadah haji kemudian menetap di tanah suci untuk menuntut ilmu, hingga bertahun-tahun, setelah mereka balik ke tanah air kemudian melakukan banyak hal untuk perbaikan umat, diantaranya, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah setelah pulang beribadah haji dari tanah suci, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdatul Ulama setelah menunaikan ibadah haji, demikian pula ulama Mandar, K.H. Muh Thahir Imam Lapeo mendirikan Mesjid Attaubah di Lapeo setelah pulang dari tanah suci, Annangguru Shaleh menjadi pemimpin Tareqat Qadiriah di Mandar sepulangnya beribadah haji.

Demikian pula halnya ulama dari tanah bugis Anregurutta K.H. Muh. As’ad Sengkang mendirikan madrasah al-arabiyah islamiyah (mai) pada tahun 1930 m yang merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Sulawesi Selatan, lembaga didirikannya sepulangnya beribadah haji dan menuntut ilmu di Madrasah Al-Falah Mekkah pada tahun 1928 m. Mai ini merupakan cikal bakal berdirinya Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) di Sulawesi yang merupakan prakarsa para ulama yang telah menunaikan haji dan menuntut ilmu di Mekkah.

Ini merupakan sebuah indikasi bahwa haji dapat mendatangkan perubahan dan inspirasi untuk melakukan yang terbaik bagi masyarakat. Orang-orang dulu jika pulang haji mereka semakin alim dan semakin cerdas, karena haji dijadikan sebagai perjalanan menuntut ilmu dan beribadah.

Di era saat ini banyak orang yang menunaikan ibadah haji berkali-kali, umrah hampir tiap tahun tapi belum tentu dapat melakukan perubahan pada dirinya apalagi merubah masyarakat ke arah yang lebih baik. Padahal aspek fasilitas dan informasi jauh lebih berkembang dibandingkan jaman dulu. Kenapa bisa demikian? Karena sebagian besar kita belum memahami esensi perjalan haji, perjalanan haji bukanlah perjalan biasa, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang sekaligus mengandung aspek sosial dan budaya.

Bahkan indonesia dapat meraih kemerdekaan salah satu indikatornya dipelopori oleh para ulama dan pejuang yang telah menunaikan ibadah haji.

Komentar Anda