Cerita Tentang si Dia, Ahli Potong Rumput

Oleh Haidir Fitra Siagian

INI adalah hari terakhir di Gorontalo. Saya bersama seorang guruku saat menempuh sekolah di UKM Malaysia, Prof. Madya Dr Normah Mustaffa, ke sini adalah atas undangan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo. Bertujuan membawakan materi tentang penulisan artikel ilmiah untuk jurnal terindeks scopus. Acara berlangsung kemarin sepanjang hari.

Hari kedua, yakni tadi pagi, diadakan pembicaraan tentang kerja sama antara Dekan FUD dengan Dekan FSSK UKM Malaysia. Drafnya sudah disepakati dan akan diadakan penandatanganan di kampus UKM Malaysia pada saatnya.

Saat ini saya bersama Prof sudah berada di atas pesawat untuk tujuan Makassar. Sudah lebih setengah jam kami di sini, dan mendapatkan dua bungkus roti serta air mineral yang dibagikan oleh pramugari.

Besok Prof Normah akan menjadi pembicara utama dalam seminar internasional yang diadakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, lantai 4 Rektorat Kampus Samata Gowa. Beliau akan tampil bersama dengan seorang dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unhas, yang juga pernah menjadi teman dan guruku, Drs. Syamsuddin Azis, M.Phil., Ph.D. Dengan topik perilaku dan etika komunikasi dalam era millenia.

Setelah dari UIN, esok juga kami akan berangkat ke Barru. Memenuhi harapan Pimpinan Pesantren Alam Indonesia Barru untuk berbagai ilmu dengan pengalaman tentang etika komunikasi bersama santri dan santriwati pesantren tersebut pada hari Kamis pagi, 5 Juli 2018.

***

Tadi malam kami mendapat undangan kehormatan, makan malam, dari sahabatku, yang tidak terlalu akrab, tapi saling menghormati. Namanya Ninawati Damopolii, warga asli Sulawesi Utara. Dia dulu kuliah di IAIN Alauddin Makassar. Sekarang sudah kembali dan menjadi seorang guru, pendidik anak-anak bangsa.

Di sana, saya juga bertemu dengan rekan-rekan yang dulu aktif di IMM Sulsel dan sekarang mengabdi di Gorontalo. Jika menengok perjuangan kami dulu, Alhamdulillah, boleh dikatakan pada hari ini sudah membuahkan hasil. Para temanku ini telah menjadi bagian penting di provinsi yang merupakan asal-usul keluarga besar Prof. Habibie, mantan Presiden RI.

Pokoknya tadi malam adalah semacam reuni bagi kami. Walaupun sesungguhnya Ramadhan yang lalu kami semua sempat bersua di Makassar, tapi pertemuan semalam lebih terasa syahdunya.

Hal yang sama juga saya rasakan tadi jelang siang hari. Kami mendapat undangan kehormatan makan tengah hari di rumah pasangan suami isteri, sahabat kentalku dulu saat aktif di IMM Sulsel. Suaminya adalah Bang Yamin, alumni FKM Unhas. Istrinya adalah Ibu Nani, alumni Fakultas Sastra Unhas.

Dengan ibu Nani adalah saya lebih banyak beinteraksi. Selain kampus fakultas kami sangat berdekatan, juga karena beliau pernah menjadi sekretaris saya saat memimpin IMM Korkom Unhas, 97-98. Bahkan saya juga agak akrab dengan keluarganya karena dia sering mengundang kami ke rumahnya di Limbung, makan-makan.

Yang tidak kalah serunya adalah seorang temanku, yang hampir sama nasibnya tahun 1999-2004. Tadi pagi setelah shalat subuh, dia sengaja datang ke hotel menjemput saya untuk sekedar putar-putar lihat kota. Namanya Simin Palangi, asli Gorontalo. Menggunakan mobil baru yang cukup mewah membuat saya tertegun, mengingatkan masa-masa kami dulu. Saya merasakan betapa Allah Swt begitu kuasa. Memberikan balasan pahala dan rezeki kepada hamba-Nya.

Dia pernah menjadi anggotaku sebagai staf kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang berkantor di Tamalanrea. Salah satu tugas utamanya adalah menangani kebersihan dan menjaga masjid. Tinggal dan mengurus masjid. Azan subuh dan mengecek kedatangan khatib. Katanya deg-degan juga kalau khatib belum datang.

Satu hal lagi tugasnya adalah memotong rumput. Di halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel Tamalanrea, setiap saat harus dipotong rumputnya terutama musim hujan dan menjelang Idul fitri karena lapangan akan dipakai shalat Id. Oleh karena itu, kantor membelikan mesin pemotong rumput. Tampaklah dia dengan pakai topi koboi dengan suara mesin yang meraung-raung.

Subhanallah. Masa-masa yang indah itu telah berlalu. Kini masa yang lebih indah, terbentang luas di hadapannya. Insya Allah.

Batik Air, perjalanan Gorontalo Makassar
03 07 08 sudah sore.

Komentar Anda