Ali Muchtar Ngabalin dan Warungnya Tulang

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Tadi siang saya mendapat tugas dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dalam kapasitas Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagai anggota tim rihlah dakwah dan rapat koordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar.

Acara ditempatkan di Pusat Dakwah Islam Muhammadiyah atau Pusdim, Jl. G. Lompobattang No. 201 Makassar.

Dulunya ini adalah kantor PWM Sulsel, sampai tahun 1998. Setelah memarkir kendraan, mata saya langsung tertuju melihat ke sebuah rumah rewot, yang hampir runtuh, rumah yang sejak 28 tahun lalu masih seperti itu. Rumah kenangan yang telah memberi arti kepada diri ini.

***

Tamat kelas tiga SMP Negeri 1 Sipirok, saya merantau ke Makassar. Datang seorang diri dari Sipirok pedalaman Sumatera Utara, dengan menaiki KM Kerinci via pelabuhan Sibolga setelah menempuh perjalanan di atas lautan 5 hari 6 malam, berteman dengan ombak besar dan sekali-kali ikan hiu menampakkan moncongnya di kejauhan. Ongkosnya waktu itu Rp 77.000,00 kelas ekonomi, non seat.

Selama dua minggu setelah tiba di Ujung Pandang bulan Juli tahun 1990, saya masih tinggal di kantor PWM Sulsel Jl. G. Lompobattang No. 201 Ujung Pandang. Tinggal dengan seadanya, tidur di meja atau di lantai dua kayu, tanpa kasur tanpa bantal.

Sehari setelah tiba, oleh abangku (yang sudah tiga tahun tinggal di Ujung Pandang), saya dipertemukan dengan Ustadz K.H. Djamaluddin Amien, Ketua PWM Sulsel waktu itu.

Saat itu pak Kiyai bilang, Fitra, boleh tinggal-tinggal di sini, bantu-bantu jaga kebersihan dan keamanan katanya. Selama dua minggu lebih, saya bantu mengepel dan menyapu, lalu menyiram tanaman bunga. Juga menguras got di depan kantor.

Selang dua minggu kemudian, abangku menyewa sebuah warung di sebelah kantor PWM Sulsel, itulah yang tampak dalam foto di atas. Saya perhatikan bentuknya masih asli, seperti 28 tahun lalu, kecil, kira-kira ukuran 3 x 6 m, dan agak kumuh. Saya lupa berapa ongkos sewanya per tahun. Kalau tidak silap, pemiliknya adalah keturunan Jepang bekas perang dunia II.

Oleh abangku, saya disuruh jaga warung. Dia sendiri adalah staf resmi kantor PWM. Kami jualan sembako dan lain-lain. Saya ingat persis, hari pertama jualan, hampir tidak ada pembeli, kecuali seorang anak muda yang tinggal di lorong, tiga kali beli rokok per batang. Rokoknya adalah gudang garam mini, pembungkusnya warna coklat merah, biasa disebut “mini” saja. Harganya per batang 50 rupiah. Saya ingat persis, tidak ada pembeli selain itu. Artinya seharian, omset warung kami adalah Rp 150,00. Alhamdulillah.

Dua bulan kemudian, datanglah abangku yang satu lagi dari Sipirok. Tujuannya untuk merantau dan cari kerja berbekal ijazah SMA. Sebelum cari kerja, kami sama-sama jualan di warung itu. Abang ini jaga mulai pagi sampai siang. Giliranku setelah pulang sekolah. Waktu itu saya masih kelas satu SMA. Lama-lama jualan di warung itu, omsetnya sudah lumayan. Bahkan kami menambah objek jualan, termasuk menjual tabung gas isi 12 kg dan bumbu masak. Warung sudah kelihatan penuh, menambah meja dan lemari barang.

Suatu ketika, saya pernah mengangkat tabung gas di pundak ke rumah warga sekitar 100 meter, lantai 2. Setelah mereka mencobanya, ternyata karetnya longgar, tak bisa nyala. Saya dipanggil untuk memperbaikinya. Akhirnya saya kembali ke rumah itu, mengambil tabung gas tadi, memangku di pundak bawa ke warung lagi. Lalu menggantinya dengan tabung baru.

Angkat lagi ke rumah tadi dengan menaikkan di atas pundakku. Bayangkan itu, mengangkat tabung 12 kg. Hal ini terjadi cukup sering. Selain itu, beberapa kali kami juga merugi karena ada pembeli dengan uang palsu. Atau sales penipu. Ada juga warga yang sikapnya preman, anti sosial, anti kebhinnekaan, karena kami orang Batak. Ada juga pembeli yang berhutang lupa membayarnya.

Itulah sisi keseharian kehidupan kami satu tahun pertama merantau di Ujung Pandang, Juli 1990–Juni 1991. Jualan di warung Tulang. Kenapa warung Tulang? Karena abangku yang pertama tadi, yang staf PWM Sulsel, oleh anak-anak tetangga dipanggil dengan Tulang. Sebab dalam adat Batak, orang yang lebih tua tidak boleh disebut namanya, maka dipanggilnya Tulang atau dalam bahasa Indonesia adalah paman atau om.

Dalam perjalanan satu tahun itu, banyak pembeli kami yang berasal dari pengurus Muhammadiyah atau pengurus IMM yang kantornya bersebelahan dengan warung kami. Diantara yang saya ingat pelanggan kami antara lain adalah Prof. Irwan Akib, mantan Rektor Unismuh. Kak Andi Nurpati Baharuddin, mantan anggota KPU Pusat dan sekarang politisi Partai Demokrat. Pak Syaiful Saleh, mantan calon Wakil Walikota Makassar dan sekarang mencalonkan diri sebagai anggota DPD. Ada juga Bang Ardias Bara, tokoh masyarakat Luwu Timur. Pejabat penting di Semen Tonasa, Kak Rahmat Nour, juga Kak Mukhaer Pakkanna, Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Kak Husni Yunus, dan lain-lain.

Satu lagi yang lagi populer sekarang, sempat jadi trending topic, adalah Bang Ali Muchtar Ngabalin, staf pegawai utama UKP, Presiden Jokowi. Kok bisa? Karena saat itu beliau adalah pengurus PII Sulsel. Sekretariat PII tak jauh dari warung kami di jalan Gunung Lompobatttang. Saya ingat beliau kalau belanja, paling sering adalah minyak tanah dan obat nyamuk. Juga perlengkapan mandi, seperti sabun give dan sampo. Beberapa kali dia mampir agak lama di warung, cerita ini dan cerita itu, sambil mendengar sandiwara radio.

Tutur Tinular. Juga memberi wejangan kepada saya agar senantiasa beribadah dan tekun belajar. (sekiranya ada bisa kirim tulisan ini kepada beliau sekarang, saya yakin dia akan tersenyum simpul, soalnya saya tak punya nomor kontaknya).

Satu tahun berjalan, kami jualan dengan segala suka dukanya. Abangku yang kedua tidak jadi cari kerja. Skenario awal yg mau cari kerja terlupakan, keenakan berjualan di warung sempit ini. Alhamdulillah, omsetnya semakin bertambah. Isi warung juga semakin bervariasi dan penuh barang. Karena dia tidak jadi cari kerja, maka kami bertiga sepakat menyerahkan pengelolaan warung ini kepadanya. Artinya warung itu dan jualannya menjadi miliknya.

Saya lanjutkan sekolah SMA dan kemudian ditetapkan sebagai staf resmi kantor PWM Sulsel dengan tugas utama bidang kebersihan, konsumsi dan pengetikan surat-surat juga mengantarnya ke tujuan dengan naik sepeda, dengan gaji pertama sebesar Rp 10.000,00 yang langsung saya kirim kepada ibuku dengan menggunakan wessel pos.

Itu mulai saya lakoni tahun 1991. Dan seterusnya dan seterusnya. Jadi saya menjadi staf kantor PWM Sulsel mulai dari Jl. G. Lompobattang sampai lanjut ke Jl. Perintis Kemerdekaan tahun 1998, terhitung mulai tahun 1991 sampai tahun 2010.

Jabatan terakhirku adalah Sekretaris Eksekutif/Kepala Kantor pada masa alm. Drs. K.H. Baharuddin Pagim sebagai ketua. Saya “berhenti” sebagai staf karena harus melanjutkan sekolah ke Malaysia mulai Januari 2011.

Ketika tadi siang, saya akan menghadiri pertemuan di kantor Muhammadiyah Kota Makassar. Sesaat sebelum masuk kantor, mataku tertuju kepada bangunan tua ini. Kumuh dan hampir rubuh. Boleh dikatakan ini adalah salah satu rumah paling rewot di pusat Kota Makassar tepi jalan raya, mulai dari dulu hingga sekarang. Saya terkenang dengan warung ini.

Di sinilah saya memulai hidup. Tidur bertiga dengan abang-abangku. Sesekali tikus berkeliaran di dekat kami. Kalau musim banjir, tak bisa tidur. Tempat belajar dan mengerjakan PR. Jualan dengan segala suka-dukanya.

Terbayang saat jualan dulu. Minum sprite atau fanta sembunyi-sembunyi, juga makan roti dan silverqueen coklat. Takut ketahuan abang. Juga pesan es poteng warna merah dari Daeng yang naik sepeda. Atau pesan bakso saat abangku tidur siang.

Itulah sekilas hidupku, dulu, bersama warung ini.

Alhamdulillah semoga bermanfaat.

Samata Gowa, jelang tengah malam, 100618.

Komentar Anda

error: Content is protected !!