ABM dalam Pusaran Politik dan Kemiskinan

Oleh: Muhammad Munir

Membaca judul tulisan ini, mungkin ada yang bertanya, mengapa Politik dan kemiskinan harus digandengkan? Sebab kelihatannya kedua kata ini memang tak ada hubungannya. Namun melihat fakta-fakta yang terjadi di negara kita yang terkenal dengan koruptor dan kemiskinannya ini. Ternyata kemiskinan ini erat kaitannya dengan berbagai kebijakan pemerintah. Jika pemerintahnya kreatif, maka kemiskinan bisa ditekan dan tak lagi menjadi beban negara.

Sejak reformasi digulirkan 1998 lalu, ternyata penentu kebijakan (baca: pemerintah) mulai presiden, gubernur, bupati dan kepala desa dihasilkan dari sebuah proses yang bernama pemilihan (Pilpres, Pilkada dan Pilkades). Dan berbicara soal Pilkada tentu saja kata politik menjadi sebuah kosakata paling populer yang melingkupi kandidat, tim sukses dan masyarakat pemilih.

REDEFENISI ARTI POLITIK

Politik yah Politik !. Politik adalah sebuah kata yang hampir bisa dipastikan ketika masyarakat umum mendengar kata ini, maka dalam benak mereka adalah; kekuasaan, sikut menyikut, saling bohong membohongi, menghalalkan segala cara asal tujuan tercapai, identik dengan uang dll. Tentu hal ini bisa dimaklumi karena masyarakat selama ini kurang mendapatkan pemahaman tentang apa dan bagaimana itu politik.
Dalam setiap pemilihan, baik itu pilkades, pilkada, pilgub, pileg, dan pilpres yang mereka dapatkan kebanyakan adalah uang, beras, gula, sarung, baju dll. Kondisi ini membuat masyarakat hanya mampu memaknai politik sebatas pada kata intrik atau cara-cara memenangkan sebuah pesta demokrasi yang dimana rakyat atau masyarakat disuguhi dengan visi, misi, janji, uang dan sembako.

Berbicara tentang politik, saya teringat dengan sebuah kisah humor ketika seorang murid SD mendapat tugas pekerjaan rumah dari gurunya untuk menjelaskan arti ‘ kata politik ’. Karena belum memahaminya, ia kemudian bertanya pada ayahnya.

Sang ayah yang menginginkan Si anak dapat berfikir secara kreatif kemudian memberikan penjelasan, “baiklah, Nak. Ayah akan mencoba menjelaskan dengan perumpamaan, misalkan ayahmu adalah orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, jadi kita sebut ayah sebagai ‘investor’. Ibumu adalah pengatur keuangan, jadi kita menyebutnya ‘pemerintah’. Ayah dan ibu disini memperhatikan kebutuhan-kebutuhanmu, jadi kita sebut engkau adalah ‘rakyat’, sementara pembantu kita masukkan dia kedalam kelas ‘pekerja’. Adapun adikmu yang masih balita itu kita sebut sebagai ‘masa depan’. Sekarang fikirkanlah hal itu dan saya mau lihat apakah penjelasan ayah ini bisa kau fahmi ?”.

Setelah itu, sang anak kemudian pergi ke kamarnya sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh ayahnya sampai ia tertidur. Pada sekitar jam 03.00 dinihari, anak itu terbangun karena mendengar adiknya menangis karena ngompol. Lalu ia menuju ke kamar tidur orang tuanya dan mendapatkan ibunya sedang tertidur nyenyak. Karena tidak ingin membangunkan ibunya, maka ia kemudian pergi kekamar pembantu. Karena pintu terkunci, maka ia kemudian mengintip melalui lubang kunci dan melihat ayahnya berada di tempat tidur bersama pembantunya.

Akhirnya ia menyerah dan kembali ke kamarnya, sambil berkata dalam hati bahwa ia sudah mengerti arti politik. Dan pagi harinya, sebelum berangkat kesekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya dan menulis pada buku tugasnya : “Politik adalah hal dimana para investor meniduri kelas pekerja, sedang pemerintah tertidur lelap, rakyat diabaikan dan masa depan berada dalam kondisi yang menyedihkan”.

Sampai disini, lagi lagi kita hanya bisa mengurut dada. Begitu rumitkah arti kata politik itu untuk di fahami ? Ok, mari kita kerucutkan masalah.

Jika di ibaratkan kita berada diruang tertutup ditengah terik mentari disiang bolong, tentu yang kita rasakan adalah pengap, gerah yang sungguh sangat menyiksa dan mengusik kenyamanan kita. Lalu kita kemudian berfikir untuk menyalakan kipas angin atau AC (air conditioner). Kipas angin atau AC yang memberikan kesejukan itulah politik menurut saya, meski tentunya, selalu banyak kemungkinan sebuah obyek diinterpretasi secara berbeda dan beragam. Karena politik menurut defenisi ilmiahnya adalah berasal dari dari kata Polish, Police yang bisa dipadankan dengan masyarakat madani. Masyarakat Madani adalah masyarakat yang sejahtera, mandiri serta tercerahkan secara kolektif dan setara. Berpolitik berarti berusaha secara bersama dalam aksi kolektif untuk menuju sebuah kehidupan sosial yang cerah, sejahtera dan mandiri, baik fisik maupun rohani (Catatan Bangsa Yang sakit, Mainunis Amin)

Dari uraian dan kisah diatas, manakah diantara defenisi yang akan kita pilih untuk diaktualkan ?, apakah defenisi pertama yaitu dari masyarakat awam yang menganggap politik adalah kekuasaan atau uang, ataukah defenisi anak SD yang memberi arti politik berdasarkan cerita ayahnya dan fakta yang ia lihat, atau kita mengambil defenisi ilmiah, tetapi selayaknya bagaimana logika akademis mampu menerima hal ini ?. Persoalannya adalah, siapakah yang seharusnya diikuti dan siapakah yang selayaknya mengikuti.

Agaknya masyarakat sudah harus niscaya untuk bisa ikut memberi arti politik secara ilmiah, sebelum semuanya di politisir oleh elite politik disetiap moment pemilihan. Hal ini penting karena politik adalah salah satu dari empat pilar masyarakat abad 21 selain ekonomi, teknologi dan masyarakat itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Frank Feather.

MENAKAR KEMISKINAN

Dalam membincang kemiskinan, langkah awal untuk proses itu adalah memahami hakikat, makna dan arti kemiskinan. Dalam dunia Statistik, ‘Kemiskinan ’ menurut pengertiannya adalah sebuah kondisi ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Sementara penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan disebut ‘penduduk miskin’. Adapun yang dimaksud dengan ‘garis kemiskinan’ adalah gabungan dari kedua pengertian tersebut yang kemudian oleh negara atau pemerintah dalam perhitungannya dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan pedesaan.

Kemiskinan ini akan selalu ada, siap atau tidak, mau atau tidak, suka atau tidak, sebab kemiskinan adalah makhluk tuhan yang tak akan pernah hilang dan tak akan lekang termakan rayap waktu. Kemiskinan tidak akan bisa dientaskan oleh siapa pun, tapi hanya bisa ditanggulangi dan diberdayakan sebagai skala prioritas dalam setiap kebijakan agar tak menjadi beban negara lagi. Oleh karenanya, kemiskinan ini harus kita kaji secara mendalam, secara spesifik dan mendiagnosanya agar formula penanganannya bisa kita temu kenali. Kemiskinan sudah bukan masanya untuk terus kita lisan tuliskan sebagai bentuk kampanye atau janji-janji politik.

Pada situasi ini, ada dua komponen dasar yang menjadi standar garis kemiskinan, yaitu; Pertama; Garis Kemiskinan Makanan (GKM) atau nilai pengeluaran kebutuhan makanan yang disetarakan dengan 2.100K kalorperkapita perhari. Patokannya mengacu pada hasil widyakarya pangan 1978. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan ini diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian- umbi-umbian, sayur-sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, ikan,daging, susu, telur, minyak, lemak dll.). Ke 52 jenis komoditi itu merupakankomoditi yang paling banyak dikonsumsi oleh orang miskin. Jumlah pengeluran untuk komoditi ini sekitar 70 persen jenis komoditi dipedesaan. Kedua; Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) atau kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan ini diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

Lalu bagaimana cara mengukur kemiskinan sebagai perameter penentu bagi mereka yang berada di garis kemiskinan ?. Ada 3 parameter yang juga dijadikan acuan bagi BPS (Biro Pusat Statistik) dalam kegiatan pendataan, yaitu: Pertama; persentase indeks penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan. Kedua; Indeks kedalaman kemiskinan, yaitu ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Ketiga; Indeks keparahan kemiskinan, yaitu ukuran yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantarapenduduk miskin. Semakin tinggi indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

Langkah selanjutnya adalah membuat sebuah diagnosa dalam format lingkaran kemiskinan sekaligus menjadi acuan untuk formulasi penanggulangannya. Kedua lingkaran itu adalah: Pertama; Lingkaran Kemiskinan yang dimulai pada kasus pendapatan rendah karena daya beli dan kapasitas menabung yang rendah yang tentunya berimbas pada tingkat pertumbuhan modal yang juga rendah.
Hal ini membuat situasi kekurangan modal yang dipicu oleh kreatifitas yang juga rendah. Kedua; Lingkran Setan Kemiskinan dengan kondisi awal pendapatan rendah karena modal rendah; modal rendah karena pendidikan rendah; pendidkan rendah karena kesehatan rendah; kesehatan yang rendah disebabkan kurangnya uang; kurangnya uang juga tentunya karena kreatifitas rendah. Kedua model lingkaran ini sekaligus juga menjadi pemicu rendahnya Indeks Pembangunan Manusia atau yang lebih trend dengan istilah IPM atau HDI (Human Depelopment Indeks) sebagai bentuk yang dihasilkan dari adanya pergeseran paradigmapembangunan dalam sepuluh tahun terakhir.

Dari rangkaian proses pengkajian tentang kemiskinan ini, diharapkan program dan kebijakan pemerintah tidak melulu berputar pada tataran pertumbuhan ekonomi yang meningkat, atau angka kemiskinan yang menurun, tapi lebih kepada upaya menciptakan kawasan baru pertumbuhan ekonomi. Pemerintah disini tidak saja fokus pada input dan out put saja, tapi lebih kepada out come nya. Ekonomi harus bertumbuh dari pelosok desa terpencil, infrastruktur harus menjadi agenda utama disana, mereka harus menikmati hasil kemerdekaan berupa pembangunan yang tidak Polewali sentris, Wonomulyo sentris, Mamuju sentris. Alokasi anggaran harus mempertimbangkan pendekatan out come perkapita masyarakat.

Masyarakat harus berdaya dan diberdayakan dalam kondisi apapun dan sudah saatnya pemimpin di daerah ini mengubah kebijakan anggaran dari pengadaan barang dan jasa dikurangi dan lebih fokus untuk meningkatkan alokasi belanja modal, agar tercipta sinergitas pembangunan sehingga pada akhirnya masyarakat bisa lebih makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.

Akhirnya, saya ingin mengutip sebuah pesan luhur dari leluhur Balanipa, Tandibella Kakanna I Pattang yang bergelar Daetta Tommuane atau Arajang Balanipa ke-4: “ Naiya Maraqdia, tammatindo dibongi, tarrarei di allo mandandang mata dimerrandanna daung aju, dimadinginna lita’, dimalimbonna rura, di ajarianna banne tau, di atepuanna agama ”. (sesungguhnya seorang pemimpin tidak akan terlena dalam lelap tidurdikeheningan malam, tidak akan berdiam diri berpangku tangan di siang hari,namun dia akan terus berfikir dan berupaya serta berikhtiar untuk meningkatkanhasil pertanian, berlimpahnya hasil perikanan, terciptanya ketentraman dankedamaian demi kelangsungan hidup manusia serta sempurnanya kerukunanberagama).

Pesan ini secara langsung mengisyaratkan kepada pemimpin untuk senantiasa memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Semoga hasil Pilkada Serentak yang dihelat dan menghasilkan Gubernur baru Ali Baal Masdar ini berhasil menelorkan pemimpin yang dapat lebih memberdayakan masyarakat sekaligus memutus mata rantai dan siklus lingkaran setan kemiskinan.

#Penulis aktif di RUMPITA (Rumah Kopi dan Perpustakaan) Tinambung Polewali Mandar.

Komentar Anda